Mukomuko, Satujuang.com – Rencana investasi pendirian Pabrik Kelapa Sawit (PKS) mini di Desa Sibak, Kecamatan Ipuh mendapat kawalan dan dukungan penuh dari parlemen.
Anggota DPRD Kabupaten Mukomuko, Fajar Asegraf, meminta pemerintah daerah gerak cepat dan tidak mempersulit proses birokrasi perizinan bagi para investor yang ingin masuk ke Bumi Kapuang Sati Ratau Batuah.
Fajar menegaskan, kehadiran pabrik baru di wilayah pemilihannya tersebut merupakan angin segar yang sangat dinantikan.
Meski statusnya hanya berupa pabrik mini dengan kapasitas olah 16 ton per jam, keberadaannya dinilai bakal menjadi kompetitor sehat yang mampu mendongkrak nilai saing harga beli di tingkat petani.
“Kita harus dukung penuh investor yang masuk ke Mukomuko, apalagi ini berada di wilayah dapil saya. Kehadiran pabrik berkapasitas 16 ton per jam ini paling tidak bisa langsung mengurai antrean panjang truk tandan buah segar (TBS) yang selama ini kerap terjadi di pabrik-pabrik besar,” ujar Fajar Asegraf, Kamis (25/6/26).
Lebih lanjut, Fajar membeberkan analisa matang terkait potensi ledakan produksi kelapa sawit di wilayah Mukomuko Selatan dalam lima tahun ke depan.
Saat ini, gelombang alih fungsi lahan dari perkebunan karet ke perkebunan kelapa sawit massal sedang terjadi di wilayah Kecamatan Sungai Rumbai, Ipuh, hingga Air Rami.
Kondisi tersebut diperkuat dengan keberhasilan program replanting (peremajaan sawit) dari Kementerian Peraturan yang menyasar ribuan hektar lahan kelapa sawit rakyat di Mukomuko.
” Tahun ini, tanaman hasil replanting tersebut rata-rata sudah mulai memasuki usia trek produksi 5 tahun, yang artinya pasokan buah sawit di masyarakat akan melimpah ruah,” paparnya.
Melihat potensi suplai bahan baku yang sangat melimpah tersebut, Fajar melayangkan peringatan keras kepada aparatur pemerintah, baik di tingkat desa maupun tingkat kabupaten, agar tidak menghambat atau memperlama proses administrasi pendirian pabrik tersebut.
“Saya berharap pemerintah daerah tidak menghambat izin berdirinya PKS di wilayah ini. Mulai dari pengurusan izin di sistem OSS (Online Single Submission), dokumen AMDAL (Analisis Mengenai Dampak Lingkungan), sampai kesesuaian tata ruangnya harus dibantu dan difasilitasi dengan baik,” tegas Fajar.
Politisi muda ini menambahkan, dampak domino dari berdirinya pabrik baru ini sangat nyata bagi perputaran ekonomi lokal.
Selain memberikan jaminan pasar yang lebih dekat bagi para petani sawit mandiri, operasional pabrik dipastikan akan menyerap tenaga kerja lokal dan menekan angka pengangguran di desa sekitar.
Ke depan, Fajar berharap iklim investasi yang ramah dan kondusif ini bisa memikat para investor lain untuk melirik potensi luar biasa di sektor perkebunan Mukomuko.
Menurutnya, daerah tidak boleh kehilangan momentum emas untuk menyejahterakan masyarakat hanya karena urusan birokrasi yang berbelit-belit. (Adv/Zul)











