Bengkulu, Satujuang.com – Tabir gelap yang menyelimuti pelarian oknum R alias RP nampaknya mulai dikuliti satu per satu oleh penyidik Kepolisian Daerah (Polda) Bengkulu.
Jajaran korps baju cokelat dikabarkan berhasil mengetahui aktor di balik layar yang mendanai logistik sang broker selama menjadi buronan.
Informasi terbaru yang dihimpun dari narasumber tepercaya menyebutkan bahwa pihak Polda Bengkulu kini telah mengantongi data akurat mengenai pihak-pihak yang membiayai pelarian R.
Muncul dua nama yang diduga kuat menjadi penyandang dana utama selama R bersembunyi di luar daerah hingga akhirnya diringkus di Yogyakarta.
Dua orang yang diduga menjadi sponsor pelarian tersebut bukanlah orang baru.
Keduanya disinyalir kuat merupakan bagian dari jaringan mafia atau sindikat yang sama yang selama ini ikut bermain dalam pusaran transaksi haram iming-iming jual beli jabatan di Bengkulu.
“Info terbaru, Polda sudah mendapatkan data valid mengenai siapa saja yang membiayai R selama masa pelariannya,” bisik sumber media ini, Kamis (25/6/26).
Masuknya data baru ini tentunya menjadi amunisi segar bagi penyidik Ditreskrimum Polda Bengkulu untuk membongkar sistem kerja sindikat ini.
Fakta tersebut sekaligus mempertegas dugaan awal bahwa oknum R memang bukan otak utama, melainkan hanya bidak catur yang dijaga ketat eksistensinya oleh para pemain besar agar tidak bernyanyi.
Aliran dana dari para sponsor ini diduga digunakan untuk memfasilitasi kebutuhan hidup, mobilitas, hingga biaya persembunyian R selama berstatus Daftar Pencarian Orang (DPO).
Dengan terungkapnya informasi penyokong dana ini, ruang gerak para komplotan yang masih bebas di luar sana dipastikan kian mempersempit.
Hingga berita ini diturunkan, pihak penyidik dikabarkan tengah mendalami serta melakukan validasi berkas dan melacak rekam jejak digital maupun transaksi keuangan dari kedua terduga penyandang dana tersebut.
Publik kini menaruh harapan besar pada ketegasan Polda Bengkulu untuk segera menyeret dua nama baru ini masuk ke dalam sel tahanan menyusul R.
Pengusutan klaster penyokong dana ini dinilai menjadi kunci utama untuk meruntuhkan seluruh jaringan obral jabatan yang telah merusak tatanan birokrasi dan marwah institusi di Provinsi Bengkulu. (Satujuang/Red)











