Kota Bengkulu, Satujuang.com – Wali Kota Bengkulu Dedy Wahyudi mengambil tindakan tegas membebastugaskan Lurah Anggut Dalam dari jabatannya. Keputusan ini dieksekusi pada Senin (22/6/26) petang.
Pencopotan ini menjadi konsekuensi logis atas kasus pembajakan Kartu Keluarga (KK) warga miskin yang menggelinding panas sepekan terakhir, yang memicu kecaman luas di ruang publik.
Hasil audit investigasi Inspektorat mengonfirmasi kesalahan sang lurah. Anak kandung oknum pejabat terbukti disusupkan secara sepihak ke dalam KK milik Nenek Tukiyem (74) seorang janda lansia yang bekerja sebagai tukang urut.
Siasat ini dilakukan oknum Lurah demi meloloskan sang anak dalam seleksi sekolah jalur zonasi, yang mengakibatkan data kemiskinan Nenek Tukiyem terhapus oleh sistem.
Korban gagal menerima bantuan Program Keluarga Harapan (PKH). Sistem mendeteksi janda tua itu sebagai keluarga Aparatur Sipil Negara (ASN).
Wali Kota Dedy Wahyudi mengatakan, ia meminta Inspektorat bekerja profesional untuk mengumpulkan bukti materiil pelanggaran. Hasil pemeriksaan baru resmi diterima Senin petang. Pemkot langsung mengeksekusi jabatan lurah.
“Selaku Pejabat Pembina Kepegawaian (PPK) harus mengambil sikap, tindakan ini dilakukan demi memenuhi rasa keadilan masyarakat. ASN harus menjadi contoh aparatur penyelenggara negara, yang bersangkutan tidak profesional kemudian melakukan pelanggaran,” tegas Dedy.
Kata Dedy, oknum tersebut terbukti mementingkan kepentingan pribadi daripada kepentingan negara.
Dedy menyebut sanksi ini baru langkah awal. Pemkot Bengkulu akan mendalami, sanksi lanjutan berupa pemecatan tetap masih berpotensi dijatuhkan kepada yang bersangkutan.
Dedy menyebut tindakan ini sebagai bentuk respons cepat dari pemerintah daerah.
“Yang bersangkutan kami tegaskan bahwa ini temuan dari pemeriksaan, sanksi ini harus kami berikan,” ujar Dedy.
Perjuangan keadilan Nenek Tukiyem kini memasuki babak baru. Tekanan publik yang besar memaksa pemerintah mengambil sikap tegas.
Polemik pembajakan KK ini menjadi cambuk untuk pemerintahan daerah karena tega mengorbankan warga kecil demi ego pribadi. (Red)











