Bengkulu – Beberapa wilayah di Provinsi Bengkulu berhasil menekan angka stunting dengan signifikan pada tahun 2022.
“Penurunan tertinggi angka stunting dari Pemerintah Kota Bengkulu, dari 22,2 persen menjadi 12,9 persen,” kata Kepala BKKBN Provinsi Bengkulu Bengkulu Rusman Efendi, Kamis (2/2/23).
Menurutnya, ini merupakan prestasi tertinggi dalam menurunkan angka kasus kekurangan gizi kronis pada balita.
“Keberhasilan Pemkot Bengkulu tersebut dikarenakan adanya inovasi yang digerakkan secara konvergensi dalam aksi intervensi spesifik dan sensitif,” tambah Rusman.
Intervensi tersebut dilakukan dengan menyasar keluarga-keluarga berisiko stunting seperti keluarga berisiko stunting, mulai dari kelompok remaja, calon pengantin, ibu hamil dan menyusui.
Hal senada juga disampaikan Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3APPKB), Dewi Dharma.
“Upaya menekan prevalensi stunting yang dilakukan Pemerintah Kota Bengkulu itu melalui pengembangan beberapa program sebagai strategi menurunkan stunting,” ungkap Dewi.
Ia mencontohkan seperti memberikan vitamin dan tablet tambah darah bagi remaja pelajar/siswi tingkat SMP dan bekerjasama dengan Pemprov Bengkulu untuk menyasar siswi tingkat SMA.
“Sosialisasi pendewasaan usia perkawinan juga menjadi program pencegahan potensi stunting yang menggandeng lembaga pendidikan dan kantor Kementerian Agama Kota Bengkulu,” terang Dewi.
Selain Kota Bengkulu, ada Kabupaten Seluma turun hingga 22,1 persen dari tahun lalu yang sebesar 24,7 persen.
Lalu Kabupaten Bengkulu Tengah menekan hingga pada angka 21,2 persen dari 25,5 persen dan Kabupaten Rejang Lebong menempati angka 20,2 persen dari prevalensi sebesar 26 persen pada 2021. (red)











