Satujuang, Bengkulu- Anggota DPRD Provinsi Bengkulu Usin Abdisyah Putra Sembiring semakin aktif mengajak para ibu rumah tangga untuk kelola sampah dari rumah agar bernilai ekonomi.
Ia terus menunjukkan komitmen terhadap pengelolaan lingkungan berbasis warga dengan turun langsung ke tingkat RT.
Program ini menghadirkan fasilitator lingkungan untuk memberikan pelatihan praktis pengelolaan sampah organik dan anorganik di berbagai kelurahan.
Di Jalan Semangka, Kelurahan Panorama, para ibu belajar memilah sampah rumah tangga sejak dari dapur.
Sementara itu, di RT 10 Kelurahan Belakang Pondok, para ibu fokus pada pengelolaan sampah organik, dengan ibu Ety memberikan praktik langsung pengolahan sampah anorganik.
Pelatihan serupa juga digelar di RT 1 Kelurahan Tengah Padang, RT 6 Kelurahan Pasar Melintang, serta RT 1 Kelurahan Padang Jati, kawasan Kinibalu. Di wilayah ini, warga diajarkan menjadikan sampah organik dan plastik sebagai produk bernilai guna dan bernilai jual.
Ibu Yulia Suparti secara khusus memberi pelatihan mengelola sampah organik menjadi Eco Enzym dan Pupuk Cair.
Di RT 11 Kelurahan Sidomulyo dan RT 2 Kelurahan Tengah Padang, para ibu mulai memahami konsep pengelolaan sampah sebagai sumber ekonomi rumah tangga.
Selain itu, di RT 7 Kelurahan Nusa Indah dan RT 10 Kebun Grand, pelatihan difokuskan pada praktik pengolahan sampah plastik dan organik secara berkelanjutan.
Langkah nyata juga ditunjukkan warga RT 46 Kelurahan Pagar Dewa yang mulai membentuk bank sampah mandiri, dikelola langsung oleh emak-emak setempat.
Program ini menjangkau banyak wilayah lain, di antaranya Jalan Citanduy RT 7 Kelurahan Kandang, RT 14 dan RT 17 Kelurahan Lempuing, Tanjung Jaya, RT 11 Kelurahan Tengah Padang, RT 7 Kelurahan Kebun Kenanga, hingga RT 9 Kelurahan Kandang.
Usin Sembiring menegaskan bahwa pengelolaan sampah tidak cukup hanya mengandalkan pemerintah, tetapi harus dimulai dari kesadaran rumah tangga.
“Kalau emak-emak sudah paham dan mau bergerak, persoalan sampah di Bengkulu bisa diselesaikan dari dapur rumah sendiri,” ujarnya, Selasa (2/12/25).
Ia menilai peran emak-emak sangat strategis karena merekalah yang paling sering berhadapan langsung dengan sumber sampah rumah tangga.
Dengan pelatihan yang tepat, Usin berharap ibu-ibu dapat menjadi motor penggerak perubahan di lingkungan masing-masing.
“Kita ingin gerakan ini terus berkembang, tidak hanya berhenti di sosialisasi, tetapi menjadi kebiasaan dan budaya baru di masyarakat,” tutup Usin. (Rls)











