Bengkulu, Satujuang.com – Aksi unjuk rasa memperingati Hari Tani Nasional yang digelar aliansi mahasiswa dan petani di depan Kantor Gubernur Bengkulu berakhir ricuh pada Kamis (24/9/26) sore.
Aparat kepolisian terpaksa menyemprotkan water cannon hingga mengamankan sejumlah peserta aksi setelah situasi di lapangan tidak kondusif.
Aksi yang berlangsung sejak siang itu awalnya berjalan damai dengan orasi bergantian dari perwakilan Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) dan mahasiswa.
Massa mengepung kantor gubernur untuk menyuarakan penolakan atas dugaan perampasan lahan pertanian warga oleh pihak swasta serta menuntut pengembalian fungsi lahan transmigrasi.
Dalam aksi tersebut, massa membawa lima tuntutan utama kepada Pemerintah Provinsi Bengkulu.
Salah satu poin krusial adalah desakan agar Gubernur Bengkulu mengembalikan kawasan eks transmigrasi dan persawahan di Desa Air Ngalam, mulai Parit 1 hingga Parit 7, seluas kurang lebih 3.500 hektare kepada petani HKTI.
Massa juga mendesak Pemprov Bengkulu menekan pihak ATR/BPN untuk segera melakukan pengukuran ulang atas lahan masyarakat yang kini digarap PT Agri Andalas.
Langkah ini dinilai penting demi mengembalikan fungsi areal persawahan transmigrasi sekaligus mencegah konflik agraria yang berlarut-larut.
Tak hanya itu, massa menuntut penyerahan kembali lahan milik warga di desa-desa penyangga seperti Desa Jenggalu, Desa Tawang Rejo, dan Desa Tumbuan yang diduga telah diserobot perusahaan.
Mereka mendesak gubernur bersikap tegas membela rakyat, menghentikan praktik kriminalisasi petani, serta mengutamakan kesejahteraan warga di sekitar perkebunan.
Ketegangan mulai pecah memasuki Kamis sore ketika perwakilan massa yang berupaya menemui jajaran pejabat Pemprov Bengkulu tak kunjung mendapat kepastian.
Sebagian peserta aksi kemudian mencoba mendesak masuk ke dalam area Kantor Gubernur Bengkulu hingga memicu benturan fisik dengan aparat pengamanan.
Guna mengendalikan situasi yang memanas, kepolisian mengambil tindakan tegas dengan menerjunkan satu unit kendaraan taktis water cannon.
Semprotan air bertekanan tinggi diarahkan langsung ke kerumunan massa untuk membubarkan barisan pengunjuk rasa.
Pasca-pembubaran paksa tersebut, sejumlah peserta aksi langsung diamankan petugas kepolisian ke markas untuk dimintai keterangan terkait dugaan pemicu bentrokan. (Red)












