Satujuang, Seluma- Jembatan Rp16 Miliar di Seluma yang dikenal sebagai Jembatan Matan di Desa Pasar Seluma, Kecamatan Seluma Selatan, dilaporkan jebol pada Senin (6/4/26) sekitar pukul 14.00 WIB.
Ironisnya, jembatan sepanjang 100 meter berwarna merah putih yang sempat dibangga-banggakan ini baru diresmikan pada awal Februari 2026 oleh Gubernur Bengkulu, Helmi Hasan.
Struktur senilai Rp16 miliar tersebut merupakan akses vital yang menghubungkan Kecamatan Ilir Talo menuju pusat Kota Tais.
Kerusakan mendadak ini memicu pertanyaan serius terkait kualitas pembangunan dan pengawasan proyek infrastruktur tersebut.
Berdasarkan fakta di lapangan, bagian lantai jembatan yang jebol memperlihatkan kondisi konstruksi yang diduga tidak sesuai standar.
Beton pada struktur tersebut disebut tidak menggunakan tulangan besi, bahkan bagian dalamnya terlihat kosong tanpa timbunan padat.
Material tanah berwarna hitam gambut di lokasi semakin memperkuat dugaan lemahnya struktur dasar jembatan.
Warga bernama Agus, yang melintasi jembatan sebelum dan sesudah kejadian, mengaku terkejut dengan kondisi tersebut.
“Saya lewat pagi tadi masih bagus, dan saya lewat sore ini jembatan sudah jebol,” ujar Agus.
Ia menambahkan bahwa terlihat tidak ada besi rangkanya dan ketebalan betonnya juga dinilai kurang.
Agus juga menekankan bahwa kondisi ini perlu dipertanyakan mengingat pentingnya fungsi jembatan sebagai akses utama warga Ilir Talo menuju pusat Kota Tais.
“Lihat saja di dalamnya kosong, harusnya ada timbunan yang padat,” tegas Agus.
Informasi lain menyebutkan jembatan tersebut diduga tidak mampu menahan beban kendaraan bermuatan sekitar 8 ton.
Hingga kini, belum ada keterangan resmi dari pihak terkait mengenai spesifikasi teknis dan kapasitas maksimal jembatan.
Peristiwa jebolnya jembatan ini dipastikan tidak berkaitan dengan bencana banjir yang sebelumnya melanda wilayah Seluma.
Kejadian terjadi secara mendadak di siang hari, tanpa adanya tekanan alam yang signifikan.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari pemerintah daerah maupun pihak kontraktor terkait penyebab pasti kerusakan.
Masyarakat mendesak adanya investigasi menyeluruh serta transparansi dalam penggunaan anggaran proyek yang nilainya tidak sedikit tersebut. (da)











