Jalan Simpang Kuliner Jadi ‘Wisata Sampah’, Slogan Seluma Emas Berlian Dipertanyakan

3 menit baca

Seluma, Satujuang.com – Tumpukan sampah yang mengular di sepanjang ruas Jalan Simpang Kuliner menuju Mandi Angin, Kelurahan Napal, kembali menuai sorotan tajam.

Kondisi yang memprihatinkan ini tidak hanya mencemari lingkungan, tetapi juga dinilai menjadi potret nyata dari lemahnya tata kelola persampahan di Kabupaten Seluma.

Ironisnya, lokasi yang berpotensi menjadi jalur utama menuju kawasan wisata tersebut perlahan justru berubah menjadi “objek wisata sampah”.

Pemandangan ini dinilai bertolak belakang dengan semangat pembangunan yang diusung Pemerintah Kabupaten Seluma melalui motto “Seluma Emas Berlian”.

Berdasarkan pantauan di lapangan, sampah rumah tangga tampak menumpuk di sejumlah titik hingga sebagian menghambur menutupi badan jalan.

Selain merusak estetika, kondisi ini memicu bau busuk menyengat yang mengancam kesehatan masyarakat.

Sebelumnya, pemerintah daerah memang sempat menurunkan alat berat untuk membersihkan lokasi tersebut.

Namun, langkah itu dikritik karena terkesan insidental dan hanya dilakukan demi menyambut pelaksanaan MTQ beberapa waktu lalu.

Masyarakat menilai penanganan tersebut lebih berorientasi pada kepentingan seremonial sesaat, bukan penyelesaian akar masalah secara berkelanjutan.

Salah seorang warga Kelurahan Pasar Tais, Herry, yang tinggal dekat dari lokasi, mengaku sangat prihatin atas pembiaran yang terus berlangsung.

Menurut Herry, rendahnya kesadaran warga dalam membuang sampah memang menjadi pemicu utama.

Kendati demikian, pemerintah daerah juga dinilai menutup mata dan tidak konsisten dalam melakukan pengawasan.

“Kesadaran masyarakat memang masih rendah, banyak yang membuang sampah sembarangan. Tapi pemerintah juga seolah menutup mata. Kalau dibiarkan terus, jalan ini bisa tertutup total oleh sampah,” ujar Herry, Senin (29/6/26).

Lebih lanjut, Herry membeberkan bahwa penderitaan warga sekitar semakin bertambah karena infrastruktur jalan di wilayah tersebut sudah lama rusak hingga putus total.

“Jalan sudah putus, sekarang ditambah lagi sampah yang terus menumpuk. Akibatnya wilayah ini semakin terisolasi. Yang dirasakan masyarakat bukan hanya soal kenyamanan, tetapi juga akses dan kesehatan lingkungan,” cetusnya.

Menyikapi persoalan tersebut, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Seluma, Ikhwan, melalui Kepala Bidang Pengelolaan Sampah, Heri Juliadi, memberikan klarifikasinya.

Heri menyatakan bahwa pihak DLH sebenarnya sudah berulang kali melakukan pembersihan massal di kawasan tersebut.

Namun, persoalan sampah liar selalu kembali muncul akibat minimnya partisipasi dari masyarakat setempat.

“Kami sebenarnya sudah beberapa kali membersihkan lokasi tersebut. Kendalanya, masih banyak masyarakat yang belum mau berlangganan layanan pengangkutan sampah resmi dari DLH, sehingga mereka memilih membuang sampah secara liar,” jelas Heri.

Sebagai langkah penanganan jangka pendek, DLH berjanji akan segera menjadwalkan agenda gotong royong massal yang melibatkan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) dan organisasi kemasyarakatan.

“Dalam waktu dekat kami akan melaksanakan gotong royong untuk membersihkan kembali kawasan tersebut. Kami juga terus mengimbau masyarakat agar memanfaatkan layanan persampahan resmi yang telah kami sediakan,” pungkasnya. (Satujuang/da)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *