Tabut 2025 Adalah Cambuk

Oleh: Raghmad Satujuang

Festival Tabut 2025 telah usai. Dentuman dol telah berhenti. Keramaian telah bubar. Namun, satu hal yang tak boleh ikut padam yakni semangat yang dipertontonkan oleh Kerukunan Keluarga Tabut (KKT).

Komunitas kecil yang terus menjaga tradisi sakral warisan, meski minim dukungan dari negara.

Setiap tahun, mereka menghidupkan kembali nilai-nilai spiritual dan budaya melalui prosesi Tabut.

Mereka berjalan kaki, membawa menara sakral bernama tabut, mengarak penja, melantunkan dzikir, hingga menutupnya dengan Tabut Tebuang, simbol pelepasan duka atas tragedi Karbala.

Semua itu mereka lakukan dengan biaya sendiri.

Spanduk bertuliskan “Biaya Sendiri” yang terbentang dalam arak-arakan Tabut Tebuang bukan sekadar keluhan, tapi jeritan hati para pewaris budaya yang merasa ditinggalkan oleh sistem.

Di tengah hingar bingar festival yang diklaim “resmi”, ironi itu begitu telanjang.

Pemerintah begitu piawai menggelar panggung-panggung megah, mengundang artis dan influencer, namun lupa pada jantung sebenarnya: mereka yang menjaga api budaya tetap menyala.

Dan inilah poin pentingnya: Tabut 2025 adalah cambuk.

Cambuk bagi kita semua, terutama masyarakat adat dan komunitas budaya lainnya di Bengkulu.

Bahwa kita tak bisa terus menunggu “diperhatikan”.

Bahwa menjaga tradisi bukan soal ada atau tidaknya anggaran, tetapi soal kemauan, komitmen, dan keberanian untuk terus hidup sebagai diri sendiri di tengah arus modernisasi.

Bengkulu tak hanya punya Tabut. Kita punya Tari Kejei milik Rejang, Tari Andun dari Serawai, Rejung dan Serambeak yang perlahan hilang, hingga tenunan dan ritual adat banyak lainnya yang kini hanya menjadi judul skripsi atau bahan seminar.

Semua itu pelan-pelan tenggelam, bukan karena tak berharga, tapi karena tak dijaga.

KKT telah memberi teladan dengan menjaga warisan leluhur tidak menunggu izin siapa pun.

Maka jangan biarkan Tabut jadi satu-satunya warisan budaya yang berdenyut. Ini saatnya semua komunitas adat di Bengkulu bangkit.

Jangan hanya berdiri saat diundang festival. Berdirilah karena sadar bahwa budaya bukan tontonan musiman, tapi identitas.

Jika Tabut saja bisa hidup dengan biaya sendiri, mengapa kita yang lain justru menunggu disuapi?

Baca Juga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *