Oleh: Yusnita Alfalah Setia, S.H.
Pertama-tama, izinkan saya mengucapkan rasa syukur yang begitu mendalam karena akhirnya saya berada di titik ini, dapat menuangkan gagasan dan perasaan melalui sebuah tulisan yang telah lama ingin saya wujudkan. Saya menyadari bahwa setiap pembaca akan memiliki cara pandang dan penilaiannya masing-masing terhadap artikel ini. Namun, bagi saya, tulisan ini memiliki makna yang sangat personal sebagai bentuk refleksi, perjalanan, sekaligus ungkapan syukur atas setiap proses yang telah dilalui.
Dan ya, saya sedang berada dalam keadaan yang baik-baik saja, penuh suka cita, dan hati yang dipenuhi rasa syukur. Hal terpenting adalah saya masih diberi kesempatan untuk bangun setiap hari dengan harapan, dan semangat.
Semoga tulisan sederhana ini dapat menjadi pengingat bahwa setiap langkah kecil, setiap rasa syukur, dan setiap keberanian untuk memulai memiliki makna yang besar. Saya berharap tulisan ini dapat memotivasi siapa pun yang membacanya untuk tetap percaya pada proses, tidak ragu menuangkan isi hati dan pikirannya, serta terus melangkah menuju hal-hal baik yang ingin diwujudkan.
Saya lahir dan besar di sebuah kota kecil di pedalaman Sumatera. Bukan kota dengan gedung tinggi pencakar langit, bukan pula tempat dengan pusat perbelanjaan yang megah dan banyak. Di sekeliling rumah saya, yang terhampar hanyalah kebun sawit sejauh mata memandang. Tidak ada mall, tidak ada bioskop, dan akses informasi jauh lebih terbatas dibanding anak-anak yang tumbuh di kota besar.
Tapi dari tempat sesederhana itulah, mimpi saya lahir dan tumbuh.
Mimpi yang Terus Dipupuk
Sejak kecil, saya punya satu tekad yang tidak pernah padam, menjadi penegak hukum. Bagi sebagian orang, mungkin itu terdengar seperti cita-cita yang jauh dari jangkauan seorang anak kampung. Tapi saya percaya, jarak antara mimpi dan kenyataan bukan ditentukan oleh dan dari mana kita berasal, melainkan seberapa besar kesungguhan kita memperjuangkannya.
Saya menyelesaikan pendidikan sarjana di Universitas Bengkulu. Almamater ini bukan sekadar tempat menimba ilmu, tapi juga tempat saya mulai memahami bahwa hukum adalah jalan yang saya pilih untuk mengabdi.
Tiga Kali Gagal, Bukan Alasan untuk Berhenti
Perjalanan menuju cita-cita ini tidak saya lalui dengan mulus. Saya mendaftar seleksi CPNS sebanyak tiga kali, dengan formasi yang berbeda-beda setiap kalinya. Dua kali di antaranya, saya harus menerima kenyataan bahwa saya belum berhasil.
Rasanya wajar jika ada rasa kecewa. Rasanya wajar juga jika muncul bisikan untuk menyerah dan mencari jalan lain yang lebih “aman dan mudah”. Tapi setiap kali gagal, saya memilih untuk berhenti sejenak, bukan berhenti selamanya. Saya evaluasi diri, saya perbaiki persiapan, dan saya coba lagi.
Alhamdulillah, pada pendaftaran ketiga, saya dinyatakan lulus sebagai calon Jaksa oleh Kejaksaan Agung Republik Indonesia. Sebuah titik yang tidak akan pernah saya lupakan, karena di baliknya ada dua kali kegagalan yang mengajarkan saya arti kesabaran dan konsistensi.
Mengabdi di Ujung Barat Indonesia
Kini, di usia 28 tahun, saya menjalani karir sebagai Jaksa di Wilayah Aceh. Jauh dari kampung halaman, tapi dekat dengan tujuan yang selama ini saya perjuangkan. Setiap hari yang saya jalani sebagai penegak hukum adalah bukti bahwa mimpi seorang anak dari pedalaman Sumatera bisa terwujud, asal ia mau berjuang untuk mimpinya.
Saat ini saya juga sedang melanjutkan studi Magister Hukum di Universitas Jenderal Soedirman, karena bagi saya, belajar tidak pernah benar-benar selesai. Semakin tinggi tanggung jawab yang kita emban, semakin besar pula ilmu yang harus terus kita asah.
Untuk Adik-Adik di Luar Sana
Jika hari ini kamu sedang berada di titik yang terasa jauh dari mimpimu, entah karena tempat tinggalmu, keterbatasan biaya, atau kegagalan yang berulang kali kamu alami, saya ingin kamu tahu satu hal: kamu tidak sendirian, dan kamu belum kalah.
Saya pernah berdiri di titik itu. Dikelilingi kebun sawit, jauh dari kota, tanpa banyak fasilitas yang mendukung. Saya juga pernah gagal, bukan sekali, tapi dua kali, sebelum akhirnya berhasil di kesempatan ketiga.
Yang membedakan antara mereka yang sampai pada mimpinya dan mereka yang berhenti di tengah jalan, seringkali bukan soal siapa yang lebih pintar atau lebih beruntung. Melainkan siapa yang tetap bangun dan mencoba lagi, setelah jatuh berkali-kali.
Dari mana pun kamu berasal, sekecil apa pun kotamu, sesederhana apa pun latar belakangmu, mimpimu tetap berhak untuk diperjuangkan. Jangan biarkan tempat kamu tumbuh menentukan seberapa jauh kamu bisa melangkah.
Teruslah mencoba. Teruslah belajar. Dan jangan pernah menyerah pada mimpi-mimpimu.











