Bengkulu, Satujuang.com – Musik tradisional Dol Bengkulu sukses menggema di panggung nasional. Kerukunan Keluarga Tabut (KKT) Bengkulu tampil dalam Pagelaran Seni BPK Yogyakarta pada Sabtu (18/10/25) untuk Hari Kebudayaan 2025.
“Kami ingin menunjukkan bahwa Dol bukan sekadar alat musik, melainkan simbol semangat, persaudaraan, dan kebersamaan masyarakat Bengkulu,” ujar Ketua KKT Bengkulu, Achmad Syafril.
Dol merupakan seni perkusi khas Bengkulu yang kaya sejarah. Sejak lama, ia menjadi pengiring utama prosesi upacara Tabut.
Tradisi sakral ini mengenang syahidnya Imam Hussein bin Ali bin Abi Thalib. Awalnya, Dol hanya dimainkan pada sepuluh hari pertama Muharram dan Arba’in.
Namun, Dol kini telah berkembang pesat sebagai identitas budaya. Pada tahun 1989, ia dimusyawarahkan agar dapat dimainkan masyarakat luas.
Keputusan ini didorong oleh permintaan berbagai pihak dan pengembangan pariwisata. Sejak itu, banyak sanggar seni berdiri dengan Dol sebagai alat utama mereka.
Kini, tercatat lebih dari 150 sanggar aktif di Bengkulu. Mereka terus melestarikan musik Dol sebagai warisan budaya daerah yang hidup.
Dalam pagelaran di BPK, KKT Bengkulu menampilkan komposisi unik. Mereka menggunakan satu Tassa dan dua Dol dengan empat pola tabuhan inti.
Pola tersebut meliputi Tassa, Tsuweri, Tamatam, dan Tsuwena. Irama Tassa berfungsi sebagai komando utama dalam setiap pertunjukan.
Sementara itu, Tsuweri memicu semangat dan menyambut tamu kehormatan. Tamatam menciptakan suasana riang dengan spontanitas tari.
Adapun irama Tsuwena melambangkan duka dan penghormatan mendalam. Melalui penampilan ini, KKT memperkenalkan nilai budaya Tabut ke tingkat nasional.
Dentuman musik Dol yang menggema di gedung BPK menjadi kebanggaan baru. Bengkulu membuktikan warisan lokal mampu berdiri sejajar di panggung nasional. (Red)











