Sosok Abdoel Moethalib Sangadji Sang Pahlawan Nasional 2022

Kamil Mony (Penulis)

Oleh : Kamil Mony

Abdoel Moethalib Sangadji yang populer dengan nama AM SANGADJI, merupakan salah satu tokoh pendiri bangsa perintis kemerdekaan Republik Indonesia asal Rohomoni, Pulau Haruku, Maluku Tengah.

Lahir dan dibesarkan di negeri Rohomoni, pada 3 Juni 1889 dan wafat sebagai kesuma bangsa 8 Mei 1949 di Kota Istimewa Yogyakarta.

Mengenyam pendidikan pada HIS, Saparua dan MULO kota Ambon. Ketidaksukaan beliau terhadap Belanda sudah ditunjukan ketika masih menjadi siswa sekolah dasar dan menengah itu.

Dimana AM Sangadji selalu membuat gaduh dengan teman – teman sekolahannya yakni Belanda dan China sebab saat itu perbedaan perlakuan dirasakan sendiri oleh A.M.Sangadji.

Abdoel Moethalib Sangadji adalah anak keturunan ningrat dari Ayahnya yang seorang reghent /raja negeri Rohomoni Abdoel Wahab Sangadji, Ibunda terkasih beliau juga merupakan putri Raja negeri siri sori Islam Siti Saat Pattisahusiwa.

Tahun 1909, menjadi titik awal AM Sangadji mencoba peruntungan bekerja pada jawatan pemerintah hindia Belanda di bidang hukum sebagai panitera pengadilan (griffir landraad), Landraad Saparua, kota Ambon.

Pada tahun 1919 AM Sangadji hijrah atas inisiatif sendiri ke tanah Jawa yakni Surabaya Jawa Timur.

Dari sinilah Jago Toea memulai debutnya sebagai aktivis pejuang pergerakan setelah terlibat diskusi panjang dengan duo sahabat karibnya Hadji Oemar Said Tjokroaminoto dan Hadji Agus Salim.

Baca Juga :  Kades Patti Pulau Moa Diduga Terlibat Penyerobotan Tanah

Diskusi itu selalu dilakukan di rumah Tuan Tjokro yang di kemudian hari menjadi tempat tinggal para pendiri bangsa Republik Indonesia.

Yup, rumah yang terletak di gang peneleh no. 29-31 Surabaya itulah tempat indekos Soekarno, Semaun, Alimin, Muso, Tan Malaka, Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo dan tokoh – tokoh bangsa lainnya.

Sedangkan AM Sangadji bertempat tinggal di kawasan Gang Blauran no 4 Surabaya.

Pada tahun 1922, AM Sangadji memantapkan niat dan hatinya bergabung serta mendampingi Presiden Lajnah Tanfidziyah Syarikat Islam Hadji Oemar Said Tjokroaminoto, Wakil ketua Umum Hadji Agus Salim dan juga pengurus SI lainnya, dalam organisasi Nasionalisme Islam yaitu Sjarikat Islam.

Tak butuh waktu lama karena kepiawaiannya dalam agitasi, propaganda layaknya dua sahabatnya, AM Sangadji pun mendapat kepercayaan menyuarakan kebenaran, menggilas kebathilan dan melawan imprealisme kolonial ke berbagai penjuru tanah air.

Saat itu AM Sangadji mengunjungi Sulawesi, Kalimantan juga Jawa lewat syiar dakwah kepada ummat dan bangsa menuju Indonesia Merdeka dengan semangat politik Hijrah dan Zelfbestuur (pemerintahan sendiri) ala Syarikat Islam yang digagas oleh tuan Tjokro.

Membaca ataupun menyimak kisah patriotisme AM Sangadji pada bangsa ini, seakan memantik kita sekalian, bahwasanya ketokohan besar Allahyarham AM Sangadji tak boleh dinafiskan begitu saja.

Baca Juga :  Cegah Ideologi Komunis dengan Menghadirkan Kebahagiaan

Sebab eksistensi dan sikap ke-Indonesiaan beliau telah teruji, tidak berlebihan bila sangat – sangatlah monumental.

Kini kita akan diuji sejauh mana keseriusan mengeksekusi rekam jejak tokoh bangsa perintis kemerdekaan Republik Indonesia asal Maluku Abdoel Moethalib Sangadji mendapat pengakuan (legitimasi) sesuai UU No 20 Tahun 2009 tentang ( Gelar Tanda Jasa dan Tanda Kehormatan) dari Negara.

Sesuai amanat empat konsensus dasar berbangsa dan bernegara yakni Pancasila, UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika, Negara Kesatuan Republik Indonesia, bukankah AM Sangadji adalah warga Bangsa Indonesia yang ikut memberikan pemikiran dan kontribusi besar akan peradaban bangsa, layaknya tokoh-tokoh Pahlawan Nasional lainnya?

Setelah hasil rapat dengar pendapat dengan pemerintah daerah provinsi Maluku, Keluarga Ahli Waris Abdoel Moethalib, Pemerintah Negeri Rohomoni, dan DPRD Provinsi Maluku, per tanggal 9 Agustus 2021 telah mencapai kesepakatan politik mendorong dan mengusulkan, AM Sangadji sebagai Pahlawan Nasional asal Maluku.

Tak hanya itu keluarga AM Sangadji pun sudah menyerahkan dokumen tokoh perintis kemerdekaan RI sesuai regulasi UU kepada dinas terkait.

Kemudian telah dikeluarkan SK (Surat Keputusan) TP2GD (Tim Peneliti Pengkaji Gelar Daerah) yang ditandatangani oleh Gubernur Maluku, bahkan terkait politik anggaran guna proses dan tahapan, Tim pun juga sudah disetujui.

Harusnya pemerintah lebih peka dan serius menuntaskan apa yang sudah menjadi kesepakatan bersama, bukan hanya saat proses seremonial atau momentum semata.

Baca Juga :  Bukit Not Beka Beka Tawarkan Keindahan Sumbawa Barat

Pemerintah daerah provinsi Maluku didesak untuk segera menyelesaikan persoalan dimaksud.

Kekhawatiran kami itu mengacu pada Surat Edaran (SE) dari Kemensos RI melalui Direktorat Kepahlawanan, Keperintisan dan Restorasi Sosial.

Dimana dalam maklumat itu batas akhir pengusulan calon Pahlawan Nasional adalah minggu kedua bulan April tahun 2022.

Jika tidak sekarang terus kapan lagi?

Mengutip, pernyataan Luigi pirandello penulis dan peraih penghargaan Nobel dalam bidang sastra mengatkan, bahwa Sejarah Umat Manusia adalah Sejarah Gagasan.

Oleh sebab itu adalah sebuah keniscyaaan (fardhu ain) Abdoel Moethalib Sangadji dengan gagasan-gagasan konstruktifnya kepada bangsa Indonesia harus terus digelorakan serta menjadi urgensi  bagi elit politik daerah hingga pusat dalam menjawab kegalauan Rakyat Maluku akan sosok Jago Toea AM Sangadji.

In Shaa Allah, semoga kita tidak menjadi warga Negara dan bangsa yang apatis terhadap sikap Nasionalisme orang basudara dari sabang sampai merauke, menghargai apa yang telah menjadi legaccy para sesepuh Bangsa untuk dimuliakan lewat  pemberian penghargaan gelar PAHLAWAN NASIONAL. Semoga!

FATTAQULLAHA MASTATHA’TUM

BILLAHI FII SABILIL HAQ

Salam hangat dan bahagia…

(Rumah Parentah kediaman AM Sangadji, Kamis 3 Maret 2022.)

Penulis adalah tokoh pemuda Maluku