Bengkulu- Selain banyak nyamuk, ternyata pelayanan Rumah Sakit M.Yunus (RSMY) milik Provinsi Bengkulu sudah sering dikeluhkan berbagai pihak, Rabu (16/8/23).
Bahkan Ketua Komisi IV DPRD Provinsi Bengkulu, Edwar Samsi, beberapa waktu yang lalu sempat meminta Pemerintah Provinsi (Pemprov) Bengkulu mengevaluasi layanan RSMY.
Keluhan tersebut disampaikannya terkait 2 orang warga Kabupaten Kepahiang yang mengalami kecelakaan yang membutuhkan perawatan segera di RSMY.
“Bukan mendapat jawaban yang memuaskan, justru pihak RSMY menjawab dengan emosional menyampaikan,” sebut Edwar kala itu, Jumat (2/6).
Edwar menilai, Gubernur harus segera mengevaluasi, karena kejadian permasalahan layanan RSMY bukan hanya sekali. Ia kecewa karena tidak seperti yang diharapkan.
Padahal kata dia, tahun ini akan dibuka pelayanan jantung di RSMY. Meskipun pelayanan untuk penyakit yang ada saja belum maksimal diakomodir RSMY.
Upaya dalam mengoptimalisasi layanan RSMY pun tidaklah main-main, Rp.100 miliar sudah dianggarkan untuk pelayanan BLUD Rumah Sakit andalan Provinsi Bengkulu tersebut.
Dengan anggaran besar itu, Edwar heran jika tidak ada perubahan pelayanan RSMY kearah yang lebih baik lagi, apalagi keberadaan RSMY sudah terakreditasi A.
Terkait keluhan pelayanan kesehatan ini, hingga berita ini ditayangkan, Gubernur Bengkulu, Rohidin Mersyah belum memberikan tanggapan sedikitpun.
Sehingga belum diketahui, apakah pihak Pemprov Bengkulu sudah melakukan evaluasi yang diminta DPRD sebagai bentuk kesungguhan memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat.
Tentunya hal ini menjadi pekerjaan rumah Gubernur Bengkulu yang harus segera ia selesaikan, sebelum kembali mencalonkan diri sebagai kepala daerah lagi pada pemilu tahun 2024 mendatang.
Demikian juga dengan Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Bengkulu, Herwan Antoni. Hingga berita ini ditayangkan belum menjawab pertanyaan yang dilontarkan pewarta melalui pesan WhatsApp.
Pihak Dinkes juga belum memberikan penjelasan terkait seringnya RSMY mengalami stok obat yang kosong. Sehingga pasien terpaksa membeli obat di Apotik luar rumah sakit.
Sehingga belum diketahui di mana letak permasalahan sehingga obat sering tidak ready stok di apotek RSMY, padahal kebutuhan obat adalah kebutuhan wajib dari fasilitas pelayanan kesehatan dimanapun berada.
Lebih lagi masyarakat banyak yang menyayangkan, dengan angsuran BPJS yang terus naik ternyata bukan jaminan biaya pengobatan serta pelayanan kesehatan yang diterima menjadi semakin baik. (Red)











