Mencemaskan! Angka Kematian Bayi di Seluma Tembus 30 Kasus, Dinkes Soroti Gizi Ibu Hamil

2 menit baca

Seluma, Satujuang.com – Angka kematian bayi di Seluma mencapai lebih dari 30 kasus hingga akhir 2025, didominasi kekurangan gizi ibu hamil penyebab bayi lahir rendah.

Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Kabupaten Seluma, Reza Ade Putri, menyebut sebagian besar kasus kematian bayi di Seluma berkaitan erat kondisi kesehatan bayi saat dilahirkan, terutama berat badan tidak ideal dan penyakit bawaan.

“Sebagian besar bayi yang meninggal mengalami berat badan lahir rendah, yang berkaitan erat dengan kondisi ibu hamil yang kekurangan gizi,” ujar Reza Ade Putri saat diwawancarai diruang kerjanya, Senin (9/2/26).

Selain itu, Reza menambahkan, ada juga kasus kematian bayi yang disertai penyakit bawaan.

Berdasarkan data Dinas Kesehatan, wilayah dengan angka kematian bayi di Seluma tertinggi berada di Puskesmas Penago II, Rimbo Kedui, dan Kembang Mumpo.

Kasus-kasus ini tercatat hingga Desember 2025 dan menjadi fokus penanganan kesehatan.

“Kasus kematian bayi juga ditemukan di wilayah kerja Puskesmas Rimbo Kedui, Penago II, dan Kembang Mumpo sebanyak tiga kasus,” jelas Reza.

Sementara itu, puskesmas lainnya ada yang mencatat dua kasus dan satu kasus.

Reza menegaskan, tingginya angka kematian bayi di Seluma menjadi alarm bagi semua pihak memperkuat upaya pencegahan sejak masa kehamilan.

Pemenuhan asupan gizi ibu hamil serta pemeriksaan kesehatan rutin dinilai sangat penting menekan risiko kelahiran bayi tidak sehat.

“Kami terus mendorong ibu hamil untuk rutin memeriksakan kehamilan di puskesmas, mengonsumsi makanan bergizi,” tambah Reza.

Selain itu, ibu hamil juga didorong memanfaatkan program pendampingan gizi yang sudah disediakan.

Terkait hal tersebut, Dinas Kesehatan Kabupaten Seluma berencana memperkuat peran tenaga kesehatan dan kader posyandu.

Hal ini untuk mendeteksi dini risiko kehamilan, khususnya pada ibu hamil dengan status gizi kurang.

“Kami berharap ke depan angka kematian bayi dapat ditekan melalui kerja sama semua pihak,” pungkasnya.

Kerja sama tersebut melibatkan tenaga kesehatan, pemerintah desa, maupun keluarga. (Da)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *