KISAH RADEN BURNIAT Part 3

Siluet Kuda-Kuda Pencak Silat [moa]

<– cerita sebelumnya KISAH RADEN BURNIAT Part 2

Karena itu sebelum mereka meninggalkan Benteng mereka berkumpul lebih dahulu. Satu di antara mereka belum juga hadir, maka Raden Burniat memerintahkan untuk mencarinya. Akhirnya mereka menemuinya sedang tidur dalam kamar Residen. Mereka bertanya kepadanya, “Jadi apa yang kau keijakan di sini?” “Mulai dari saat keberangkatan, saya punya niat untuk mencoba tidur di kamar Residen. Nah sekarang saya telah merasakan bagaimana rasanya tidur di kamar Residen, jadi maksud saya sudah tercapai”.

Tujuh orang pejuang itu sudah berkumpul kembali. Mereka harus meninggalkan Bengkulu sebelum terbit fajar. Sebelumnya mereka meninggalkan secarik kertas yang bertuliskan, “Siapa yang mau membalas, silakan datang ke tempat kami dusun Tanjung Terdana. Kami siap menunggu untuk menghadapi segala kemungkinan”.

Setibanya di kampungnya Raden Burniat memberitahukan kepada penduduk di desanya bahwa ia sudah kembali dengan selamat, dan dapat membunuh banyak orang Belanda. Diberitahukannya pula bahwa Belanda akan datang mengadakan serangan balasan. Karena itu diperintahkannya kepada semua penduduk untuk bersiap-siap menghadapi segala kemungkinan untuk mempertahankan Kampung.

Raden Burniat dengan anak buahnya menunggu kedatangan pasukan Belanda di pinggir sungai. Burniat berpesan kepada anak buahnya agar dalam keadaan bagaimanapun jangan sekali-kali mundur. Kalau mundur, walau satu orang, pasti akan mengalami kekalahan. Semua anak buahnya siap untuk melaksanakan perang itu. Pasukan Belanda pun tiba, namun tidak melihat Raden Burniat dan anak buahnya, yang sudah siap di pinggir sungai.

Siluet Pencak Silat

Raden Burniat dan anak buahnya dapat menghilang, karena itu tentara Belanda banyak yang tewas dibunuh oleh anak buah Raden Burniat. Makin banyak tentara Belanda yang terbunuh, semakin hebat serangan-serangan yang dilakukan pasukan Belanda. Pasukan datang terus, tidak ada hentinya, siang maupun malam sehingga banyak rumah penduduk yang terbakar dan penduduk menderita karenanya.

Baca Juga :  Umat Islam Tidak Sholat Berarti Meruntuhkan Agama Islam

Dalam pertempuran itu salah satu anak buah Raden Burniat ada yang tidak sanggup lagi menghadapi serangan-serangan pasukan Belanda. la lari mundur. Rupanya ia tidak ingat pesan Raden Burniat. Begitu ia mundur Belanda menggempur terus, orang itu tertembak kakinya sebelah kanan. Keadaan ini melemahkan semangat anak buah Raden Burniat. Mereka menjadi bingung, tak tahu apa yang harus dikerjakan untuk menyelamatkan kawannya yang terluka itu.

Akhirnya mereka dapat dikalahkan oleh pasukan Belanda. Semua anak buah Raden Burniat ditangkap dan dipenggal kepalanya lalu dimasukkan ke dalam peti untuk dibawa ke Bengkulu. Hanya Raden Burniat yang lolos, ia lari masuk hutan. Meskipun Raden Burniat dan anak buahnya sudah dikalahkan, namun serangan Belanda tetap diteruskan. Sasaran penduduk desa. mereka dianiaya, rumahnya dibakar dan kebun-kebunnya dirusak.

Akibatnya rakyat di desa itu yang menderita karena tindakan balas dendam orang-orang Belanda. Sebelum Raden Burniat menyerah orang-orang Belanda tetap mengadakan tekanan dan ancaman terhadap penduduk desa itu, sehingga penduduk tidak lagi tahan menghadapi penderitaan ini. Karena itu diperintahkan kepada seorang pemuda untuk mencari Raden Burniat, kemudian diajak untuk menyerah kepada penjajah Belanda.

Usaha pemuda itu berhasil. Ia dapat menjumpai Raden Burniat di tengah hutan sedang duduk termenung. Pemuda itu mendekatinya seraya katanya, “Oh Raden Burniat, kembalilah ke desa, menyerah! Penduduk di desa kita tak dapat lagi menahan penderitaan akibat tindakan dan perbuatan penjajah Belanda”. Sebagian penduduk sudah mengungsi ke dusun lain. Raden Burniat diam tidak berkata apa-apa.

Baca Juga :  Natuna Utara Selatan : Traffic Separation Scheme (TSS), Krisis Pangan, Indonesia Menjadi Negara Adidaya? Butuh Strong Leadership

Pemuda itu menunggunya sampai Raden Burniat mau kembali ke desanya. Berkat kesabaran pemuda itu, akhirnya Raden Burniat mau mengikuti ajakannya. Ia pun kembali ke desanya. Setibanya di desa ia tidak merasa aman dan tenteram, sebab Belanda selalu mengancam akan membunuhnya. Usaha orang-orang Belanda untuk membunuhnya selalu gagal, sebab Raden Burniat dapat menghilang. Karena itu Belanda menjalankan siasat.

Belanda menjanjikan hadiah kepada siapa saja yang dapat menangkap Raden Burniat hidup atau mati. Di antara penduduk desa itu seorang bernama Kapung. Ia lebih menghargai harta dari pada nyawa bangsanya sendiri. Ia tertarik kepada hadiah yang dijanjikan oleh Belanda. Ia pun menyanggupi untuk membunuh Raden Burniat. Sebelum Burniat tertangkap ia sering mengadakan serangan kepada orang Belanda.

Suatu ketika seorang pembesar Belanda sedang lengah, ditamparnya dengan tangan kiri. Pembesar Belanda itu pingsan, dan kemudian mati. Sebagai bukti masih ada makam pembesar Belanda tersebut, yang berbentuk tugu. Tapi sekarang sudah pecah-pecah akibat ditumbuhi pohon. Tugu itu terletak di dusun lama Tanjung Terdana. Di dusun itu ada juga peninggalan Burniat berupa sebatang pohon Ambacang, sampai saat ini masih hidup.

Orang yang bernama Kapung itu mulai berusaha untuk membunuh Raden Burniat. Usaha Kapung ini tidak mengalami kesulitan. Burniat tidak mengetahui bahwa Kapung akan membunuhnya. Karena itu ia tidak mencurigai Kapung. Pada waktu ia lengah Kapung mencabut pedangnya yang tajam. Pedang itu memang telah dipersiapkan untuk membunuh Raden Burniat.

Baca Juga :  Sejarah dan Asul Usul Suku Lembak Bengkulu

Kepala Raden Burniat dipancung, terpisah dari badannya. Kepala itu dimasukkan Kapung ke dalam peti, untuk kemudian diserahkan kepada Komandan tentara Belanda. Waktu tentara Belanda membuka peti dilihatnya kepala Burniat masih tetap tersenyum. Peti berisi kepala Burniat dibawa tentara Belanda ke Bengkulu untuk diserahkan kepada tentara Belanda.

Akan tetapi di tengah perjalanan menuju Bengkulu, ketika peti itu dibuka ternyata Kepala Raden Burniat tidak ada lagi. Tentara Belanda yang membawa peti itu ribut dibuatnya. Mereka saling menyalahkan satu sama yang lain. Karena kesaktian Raden Burniat itu, kepalanya yang sudah terpisah dengan badan dapat bersatu kembali. Ia hidup kembali. Dan datang ke desa menemui Kapung.

Katanya kepada Kapung, “Hai Kapung!’ Engkau tidak akan mendapat hadiah. Karena saya tidak mati. Sebaliknya terimalah hadiah dari orang Belanda berupa pedang yang akan memotong lehermu”. Kapung merasa cemas mendengar suara itu. Ia masih belum percaya bahwa Raden Burniat hidup kembali.

Tapi memang benar, tidak beberapa lama setelah itu datanglah tentara Belanda ke desa itu untuk membunuh Kapung. Kapung dapat ditangkap dan kemudian dibawa. Tamatlah riwayat Kapung. Ia tidak menerima hadiah yang diharapkan. Bahkan ia sendiri yang mati dibunuh. Sedangkan Raden Burniat masih hidup. Ia tidak mati dibunuh. Ia menghilang. Tak seorang pun mengetahui ke mana ia pergi. [selesai]

Sumber : M. Kasim, dusun Sukamerindu, dalam Buku Sastra Indonesia dan Daerah Diterbitkan oleh Proyek Penerbitan.

(Aidan)