Kisah Raden Burniat Part 2

Siluet Tangkis dan Terjang [moa]

<– cerita sebelumnya KISAH RADEN BURNIAT

Karena itu ia bermaksud menyerahkannya kembali kepada ayahnya. Ia pun pergi menemui ayah Burniat, dan disambutnya dengan hormat. Dalam hatinya ayah Burniat bertanya-tanya gerangan apakah yang terjadi terhadap anaknya, sampai-sampai gurunya datang. Ia khawatir kalau-kalau anaknya melanggar atau tidak taat kepada perintah gurunya.

Sang guru mengutarakan maksud kedatangannya, seraya berkata “Wah, Pak, saya tidak sanggup lagi mengajar anak Bapak. Ia sangat aneh dan ajaib, lain dari pada yang lain. Kami semua cemas dibuatnya”. “Apa yang terjadi?”, tanya ayah Raden Burniat, ” Apakah ia nakal atau berbuat yang tidak baik?” “Oh tidak demikian”, jawab sang guru. “Ia anak yang baik, jujur dan taat”. “Jadi apa yang telah teijadi?”. Tanya ayah Raden Burniat heran.

Kemudian sang guru menceritakan kepadanya apa yang teijadi di arena latihan. Setelah itu ia pun berkata kepada ayah Burniat. “Karena kejadian itulah saya tidak lagi sanggup mengajarnya, saya khawatir akan terjadi yang tidak diinginkan. Saya tidak mau menanggung resikonya”. Mendengar cerita sang guru itu teringatlah ia pada masa 16 tahun yang lalu, sewaktu bertapa di Gunung Bungkuk.

Ia termenung sejenak, lalu katanya kepada sang guru. “Kalau demikian halnya terserahlah kepadamu, saya tidak dapat berbuat apa-apa, jika kehendakmu demikian”. Saya mengucapkan terima kasih banyak atas bimbinganmu kepada anakku Raden Burniat yang telah banyak membuat kesalahan”. Demikianlah maka diserahkannya Raden Burniat kepada ayahnya.

Baca Juga :  Nisa Sabyan Oh Nisa Sabyan

Kini ia tidak lagi menjadi murid pada perguruan persilatan. Ia hidup bersama ayahnya. Pekerjaannya sehari-hari hanyalah membantu orang tuanya berladang dan mencari kayu di hutan. Ia taat kepada orang tuanya, apa yang dipertintahkannya dilakukannya dengan penuh tanggung jawab. Karena itu kasih sayang orang tuanya semakin bertambah, apalagi sebagai anak tunggal. Namun demikian ia tidak manja, seperti halnya anak tunggal pada umumnya.

Siluet Kuda-Kuda Pencak Silat

Pada masa hidup Raden Burniat, penjajah Belanda masih bercakal di Indonesia termasuk di daerah Bengkulu. Seperti di daerah-daerah lain di seluruh Indonesia. Penjajah Belanda bertindak sewenang-wenang terhadap rakyat Indonesia. Demikian juga di Bengkulu. Raden Burniat tidak senang melihat tindakan Belanda yang sewenang-wenang itu.

Salah satu tindakan sewenang-wenang penjajah Belanda yang sangat ditentang oleh Raden Burniat ialah mewajibkan kepada semua penduduk yang sudah berumur 15 tahun ke atas untuk membayar pajak. Tanpa melihat apakah penduduk itu mampu atau tidak. Pajak itu yang dinamakan pajak kepala/Belesting. Pada waktu itu semua orang takut untuk tidak membayar pajak kepala tersebut, padahal kebanyakan penduduk tidak mampu.

Namun tidak demikian dengan Raden Burniat, ia menolak untuk membayar pajak kepala. Pada waktu itu umurnya sudah lebih dari 15 tahun, sudah dikenakan wajib membayar pajak. Pada waktu petugas pajak datang menagih kepada Raden Burniat, ia menolak untuk membayar. Bahkan ia berkata dengan suara keras dan tegas. “Saya tidak mau membayar. Apabila penjajah Belanda marah, suruh ia datang ke man menghadap!”.

Baca Juga :  Sejarah dan Asul Usul Suku Lembak Bengkulu

Ia berkata demikian bukan karena sombong, akan tetapi ia ingin membela rakyat yang lemah, agar pajak itu dihapuskan saja. Sebab sangat memberatkan penduduk. Mendengar kata-kata Raden Burniat itu, petugas pajak itu pun bingung, ia takut atasannya akan marah, karena tidak dapat menagih pajak kepada Raden Burniat. Ia berpikir bagaimana caranya untuk mendapatkan pajak Raden Burniat.

Akhirnya ia dapat akal juga. Disuruhnya tiap-tiap penduduk di desa itu mengumpulkan uang secara iuran. Hasil iuran itu digunakan untuk membayarkan pajak Raden Burniat. Namun hal ini tidak diketahui oleh Raden Burniat. Setahun dua tahun penduduk di desa itu sanggup dan mau membayar iuran buat pembayar pajak Raden Burniat. Untuk seterusnya mereka tak sanggup dan tak mau lagi.

Akhirnya Raden Burniat pun mengetahui siasat perugas pajak itu. Ia marah kepada penduduk seraya berkata, “Saya tidak pernah menyuruh kalian membayarkan pajak saya, kalian orang-orang bodoh, mau menambah kekayaan orang Belanda”. Mendengar kata-katanya itu salah seorang penduduk berkata, “Kalau memang benar-benar berani dan tak sanggup membayar pajak, coba kau bunuh orang-orang Belanda itu!”.

Bukan main marahnya Raden Burniat mendengar kata-kata orang itu. Ia bertekad untuk bisa menjawab tantangan orang tadi. Ia berjanji dan minta tempo 7 hari. Ia berkata, “Kalian akan dapat menyaksikan bahwa saya dapat membunuh orang-orang Belanda yang ada di Benteng Marlborough”.

Keesokan harinya Raden Burniat mengundang teman-temannya seperguruan waktu belajar persilatan. Baik dari daerah Timur, Barat, Selatan dan Utara. Sebanyak 6 orang temannya yang datang, memenuhi undangannya. Berkata Raden Burniat kepada teman-temannya itu, “Maksud saya mengundang kalian adalah mengajak kalian menggempur Benteng Marlborough Bengkulu dan membunuh orang Belanda yang ada di dalamnya. Apakah kalian sanggup?” tanya Raden Burniat.

Baca Juga :  Pengadaan Barang Perusahaan Voucer

Tujuan ini sangat membahayakan, karena taruhannya adalah nyawa. Namun demikian ke enam temannya itu menyanggupinya. Pada hari yang ketujuh malam harinya berangkatlah ketujuh orang itu, di bawah pimpinan Raden Burniat. Persenjataan mereka lengkap, ada yang membawa pedang, tombak, pisau dan keris. Setelah beberapa hari berjalan sampailah mereka ke tempat yang dituju, yaitu Benteng Bengkulu.

Mereka sampai di Bengkulu pada malam hari, di saat semua orang sedang tidur dengan nyenyak. Demikian juga orang-orang Belanda yang ada di dalam Benteng, kecuali penjaga pintu. Sebelum memasuki Benteng, mereka berkumpul untuk mengatur siasat dan menerima perintah dari Raden Burniat. Diperintahkannya agar tiap orang harus membunuh Belanda. Raden Burniat masuk lebih dahulu, karena ia dapat menghilang, maka dengan mudah ia dapat membunuh penjaga pintu.

Setelah teman-temannya mengetahui penjaga pintu sudah dibunuh, mereka pun memasuki Benteng dengan aman. Mereka membunuh semua orang Belanda, yang ada di dalam Benteng. Raden Burniat telah memutuskan kepada anak buahnya agar, setelah dapat membunuh orang Belanda, sebelum pulang ke kampung, berkumpul kembali. Bersambung KISAH RADEN BURNIAT Part 3 –>