Kota Bengkulu, Satujuang.com – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kota Bengkulu berubah menjadi ancaman keselamatan nyawa anak sekolah akibat minimnya pengawasan dan higienitas pengolahan makanan.
Hasil uji laboratorium Balai Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Bengkulu resmi membongkar borok kualitas menu MBG di SDN 59 Kota Bengkulu.
Tiga dari enam sampel makanan dinyatakan Tidak Memenuhi Syarat (TMS) karena tercemar kuman dan bakteri berbahaya jauh di atas ambang batas keselamatan.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Bengkulu, Nelli Hartati, membenarkan temuan surat laboratorium tertanggal 14 September 2026 tersebut usai tujuh siswa dilarikan ke RS Harapan dan Doa (RSHD) akibat keracunan massal pada Jumat (4/9).
“Surat sudah kita terima, beberapa sampel makanan ada yang tidak memenuhi syarat,” kata Nelli.
Data hasil pengujian BPOM membongkar tingkat keteledoran dan ancaman cemaran bakteri pada paket makanan siswa:
- Tumis Buncis & Wortel: Ditemukan cemaran Staphylococcus aureus mencapai 1,8 x 10⁵ koloni/gram — meledak ribuan kali lipat dari batas aman yang dipersyaratkan (<100 koloni/gram).
- Ayam Kaki Naga (Sampel 1): Tercemar Bacillus cereus sebesar 1,4 x 10³ koloni/gram serta Staphylococcus aureus sebesar 1,5 x 10³ koloni/gram.
- Ayam Kaki Naga (Sampel 2): Mengandung Staphylococcus aureus sebanyak 4,4 x 10² koloni/gram.
- Sampel Aman: Hanya tiga sampel yakni tahu goreng dan dua sampel kentang kukus yang dinyatakan memenuhi syarat uji kimia dan mikrobiologi.
Tingginya cemaran Staphylococcus aureus dan Bacillus cereus ini menjadi indikator resmi penetapan Kejadian Luar Biasa (KLB) keracunan pangan yang memicu keluhan pusing, mual, muntah, hingga sakit perut hebat pada para murid.
Keracunan makanan dalam program gizi ini menuntut evaluasi total hingga sanksi pidana terhadap vendor penyedia.
Badan Gizi Nasional (BGN) didesak mengusut tuntas proses pengolahan hingga distribusi makanan agar anggaran MBG tidak dijadikan ajang bancakan yang menumbalkan kesehatan siswa. (Red)












