Bengkulu, Satujuang.com – Kondisi suhu udara yang terasa sangat terik dan menyengat di wilayah Bengkulu khusunya di Kota Bengkulu dan beberapa area Sumatra dalam beberapa hari terakhir akhirnya terungkap penyebabnya.
Melansir Infoandalas, berdasarkan analisis dinamika atmosfer, salah satu pemicu utama cuaca panas yang lebih ekstrem dari biasanya ini adalah mulai mendominasinya pengaruh Monsun Australia di atmosfer Indonesia.
Pemandangan mencolok pun terlihat di langit Kota Bengkulu dalam beberapa hari ini, di mana sejauh mata memandang langit tampak begitu biru bersih (clear sky) tanpa ada tutupan awan sedikit pun.
Fenomena estetis namun gersang ini menjadi penanda kuat bahwa atmosfer sedang mengalami kekosongan uap air secara masif.
Monsun Australia, atau yang sering dikenal sebagai Monsun Timur/Tenggara, merupakan pola angin musiman tahunan yang bertiup dari benua Australia menuju benua Asia melintasi garis khatulistiwa.
Fenomena alam ini terjadi setahun sekali, biasanya berlangsung mulai dari bulan Mei hingga September atau Oktober, dan menjadi motor penggerak utama datangnya musim kemarau di sebagian besar wilayah Indonesia.
Bagaimana Proses Terjadinya?
Pergerakan angin musiman ini digerakkan oleh perbedaan suhu dan tekanan udara yang cukup ekstrem di antara dua benua:
- Australia Mengalami Musim Dingin: Pada periode Mei hingga September, posisi matahari berada di belahan bumi utara, sehingga benua Australia mengalami musim dingin dengan suhu udara yang sangat rendah.
- Tekanan Udara Tinggi: Udara yang dingin memiliki massa yang lebih berat, sehingga menciptakan area pusat tekanan udara tinggi (maksimum) di benua Australia.
- Asia Mengalami Tekanan Udara Rendah: Di saat yang bersamaan, benua Asia justru sedang mengalami musim panas, sehingga tekanan udaranya menjadi rendah (minimum).
- Angin Bergerak ke Asia: Sesuai hukum alam, massa udara akan bergerak dari daerah bertekanan tinggi (Australia) menuju daerah bertekanan rendah (Asia).
Mengapa Sinar Matahari Terasa Begitu Terik?
Karakteristik utama dari Angin Monsun Australia ini adalah sifatnya yang cenderung kering dan miskin uap air.
Ketika angin ini bertiup melintasi wilayah Indonesia, pasokan uap air di atmosfer otomatis menurun drastis, sehingga proses pembentukan awan-awan hujan menjadi terhenti.
Minimnya tutupan awan inilah yang menjawab teka-teki mengapa langit terlihat begitu bersih tanpa awan.
Tanpa adanya tameng awan di angkasa, radiasi sinar matahari dapat langsung menembus dan memanaskan permukaan bumi tanpa ada penghalang.
Dampaknya, suhu udara pada siang hari di Kota Bengkulu terasa jauh lebih menyengat kulit dari biasanya.
Namun, dampak dari fenomena Monsun Australia ini dilaporkan tidak merata di seluruh Pulau Sumatra.
Beberapa wilayah di pantai barat Sumatra seperti Sumatra Barat, Sumatra Utara, dan Aceh dinilai masih memiliki peluang untuk mendapatkan guyuran hujan.
Hal ini dipengaruhi oleh pasokan uap air dari Samudra Hindia serta faktor topografi lokal Pegunungan Bukit Barisan. (Red)











