Hari Tani Nasional, Gubernur Bengkulu Didemo: Reforma Agraria Sejati Jangan Cuma Janji

Perkiraan Waktu Baca: 2 menit

Satujuang, Bengkulu– Peringatan Hari Tani Nasional (HTN) ke-65 di Bengkulu diwarnai aksi demonstrasi dari Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Bengkulu bersama organisasi masyarakat sipil, kelompok tani, masyarakat adat, dan gerakan mahasiswa, Rabu (24/9/25).

Massa aksi mendesak agar pemerintah provinsi tidak lagi sekadar menjanjikan reforma agraria, tetapi benar-benar mewujudkan Reforma Agraria Sejati.

“Reforma agraria yang dijanjikan negara masih jauh dari harapan. Petani terus dirugikan, perempuan petani bahkan menjadi kelompok paling rentan menghadapi intimidasi, pelecehan, hingga kriminalisasi. Negara seolah lebih berpihak pada korporasi ketimbang rakyat,” tegas Julius, Koordinator Aksi dari WALHI Bengkulu.

Dalam aksinya, massa menyoroti konflik agraria yang hampir terjadi di seluruh kabupaten di Bengkulu, mulai dari petani Kaur dengan PT Dinamika Selaras Jaya, petani Pino Raya Bengkulu Selatan dengan PT Agro Bengkulu Selatan (ABS), petani Seluma dengan PT SIL dan PT Agri Andalas, hingga konflik lahan di Bengkulu Utara, Mukomuko, dan Pulau Enggano.

Situasi itu, kata WALHI, diperparah dengan lemahnya peran Gugus Tugas Reforma Agraria (GTRA) yang dinilai gagal memberikan solusi konkret. Karena itu, massa menyampaikan empat tuntutan utama:

Mendesak Gubernur Bengkulu melaksanakan Reforma Agraria Sejati.

Menghentikan perampasan tanah, kriminalisasi, dan intimidasi terhadap petani, nelayan, serta masyarakat adat.

Melakukan moratorium izin perusahaan di Bengkulu dan mencabut izin korporasi yang terbukti merampas tanah rakyat.

Menyusun kebijakan tata kelola agraria yang berpihak pada kedaulatan pangan rakyat, bukan korporasi.

Sebagai tindak lanjut, aksi ini melahirkan berita acara kesepakatan yang ditandatangani langsung oleh Gubernur Bengkulu.

Kesepakatan itu memuat pembentukan Tim Reforma Agraria Sejati yang melibatkan perwakilan masyarakat berkonflik, WALHI, Kanopi Hijau Indonesia, serta mahasiswa dari UNIB, UMB, Universitas Dehasen, GMNI, dan IMM.

“Tidak ada negara yang kuat tanpa petani yang berdaulat,” menjadi seruan bersama yang menggema dalam aksi HTN di Bengkulu. (Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *