Untuk Mereka yang Jadi Tumbal: Saatnya Bicara Demi Indonesia Lebih Baik

2 menit baca

Mereka diam. Menahan sakit. Menanggung beban dosa yang bukan miliknya.
Mereka disebut “tumbal” — istilah kelam dalam praktik korupsi di negeri ini.

Bukan pelaku utama, tapi dijadikan tameng.
Dipasang di barisan depan ketika badai hukum menerjang.

Di balik meja-meja kekuasaan, yang merancang permainan licik tetap duduk tenang, tersenyum dalam gelap, bebas dari jeruji.

Mereka yang mestinya dihukum malah bersembunyi di balik nama “atasan,” “perintah,” atau “loyalitas.”

Sementara yang jadi “pasang badan” kehilangan segalanya — kebebasan, martabat, bahkan masa depan keluarga.

Bung, sampai kapan ketidakadilan ini dibiarkan?

Sampai kapan para tikus berdasi tertawa di balik penderitaan orang kecil yang dijadikan umpan?

Kami tahu kalian tahu.
Kami tahu kalian menyimpan rahasia besar itu.

Dan kami tahu, di hati kalian masih ada Indonesia.

Maka dengarkan suara ini, suara nurani yang ingin kalian dengar sejak lama:
Bukalah suara. Katakan semuanya. Bongkar seterang-terangnya. Demi anakmu. Demi negerimu.

Jangan biarkan dirimu terus dikorbankan demi kebusukan yang tak pernah akan berhenti jika dibiarkan.

Keberanianmu bisa menjadi titik balik. Kejujuranmu bisa menyelamatkan banyak orang dari jebakan yang sama.

Kau bukan musuh bangsa — kau bisa jadi pahlawan kebenaran.

Dan kepada aparat penegak hukum:
Bekerjalah dengan hati. Jangan hanya mengejar nama tapi abaikan kebenaran.

Jangan biarkan skenario korup dijalankan seenaknya. Tunjukkan pada dunia bahwa hukum masih hidup di negeri ini.

Karena jika kita terus membiarkan tumbal-tumbal dikorbankan, tanpa berani menyentuh akar busuknya, maka negeri ini hanya akan jadi panggung sandiwara.

Sudahi. Sekarang.
Bicaralah. Dan bebaskan dirimu dari dosa yang bukan milikmu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *