Penulis: Doris Susama
Satujuang– Sebagai orang yang lahir dan besar di Provinsi Bengkulu, saya harus mengakui bahwa menjadi orang Provinsi Bengkulu terkadang tidak menyenangkan. Terletak di Pulau Sumatera, Bengkulu dengan ketidakunikannya sering kali membuat penduduknya merasa dihadapkan pada stereotip tinggal di lingkungan yang marjinal.
Meski dikenal sebagai salah satu daerah penghasil puspa langka, nyatanya, ada beberapa sisi tidak enak yang mungkin membuat Anda berpikir dua kali untuk memilih Bengkulu sebagai tempat tinggal.
Sebelum saya mengupas nggak enaknya tinggal di Provinsi Bengkulu, mari kita kenali sedikit tentang geografis provinsi ini. Bayangkan saja Provinsi Bengkulu merupakan sebuah kapal yang terletak di Pulau Sumatera, dengan luas mencapai 19.919 kilometer persegi dan memanjang dari sebelah selatan (kepalanya) hingga ke bagian sisi utara (ekornya).
Dengan total pupulasi mencapai 2.086.883 jiwa, menurut saya tinggal di Provinsi Bengkulu menghadirkan ketidakenakannya tersendiri. Apalagi jika harus dibandingkan dengan daerah tetangga seperti Provinsi Sumatera Selatan dengan Kota Palembangnya dan Provinsi Sumatera Barat dengan Kota Padangnya.
Sering Dikira Berada di Kalimantan atau Sulawesi
Nggak enaknya jadi orang Provinsi Bengkulu adalah tidak dikenal. Yang terjadi adalah Provinsi Bengkulu seringkali dianggap oleh orang Pulau Jawa berada di Kalimantan atau Sulawesi. Pengalaman ini pernah penulis alami sendiri ketika mengikuti seminar online pada masa Covid-19. Saat sesi perkenalan.
Penulis memperkenalkan diri sebagai orang Provinsi Bengkulu. Namun mayoritas peserta seminar tidak tahu letak Provinsi Bengkulu. Bahkan beberapa mengklaim bahwa Bengkulu merupakan bagian dari Kalimantan atau Sulawesi.
Pengalaman serupa juga terjadi pada teman saya sendiri yang saat itu mengikuti pelatihan fotografi di daerah Bandung. Dia menuturkan tidak banyak orang yang tahu Provinsi Bengkulu, bahkan dia harus menjelaskannya berulang-ulang pada orang berbeda.
Pengalaman ini tidak hanya terjadi pada saya dan teman saya yang itu, tapi setelah melalui banyak sharing dengan teman yang lain, mereka pun mengakui memiliki pengalaman serupa.
Oleh karena itu jika berkenalan dengan orang luar pulau Sumatera, penulis akan lebih senang memperkenalkan diri sebagai orang Palembang, karena nyatanya Palembang lebih dikenal dibanding Bengkulu.
Melalui cara ini penulis tidak perlu bersusah payah menjelaskan di mana Provinsi Bengkulu itu berada. Bukannya penulis tidak bangga dan tidak mau mengakui provinsi sendiri, tapi penulis sendiri merupakan orang yang malas ribet, wkwk.
Setelah melalui perenungan yang penjang dan riset seadanya, penulis berasumsi bahwa ketidakdikenalan Bengkulu oleh masyarakat Indonesia adalah karena Bengkulu tidak memiliki keunikan jika dibandingkan Provinsi tetangga.
Coba mari kita bandingkan Provinsi Bengkulu dengan Provinsi Sumatera Barat dan Sumatera Selatan. Ketika orang mendengar kota Padang maka orang akan langsung teringat Jam Gadang sebagai ikon Kota yang tidak dimiliki kota lain, selain itu nasi padang yang kelezatannya telah diakui dan diketahui oleh masyarakat skala nasional.
Beralih ketika mendengar nama Kota Palembang, orang akan otomatis teringat dengan Jembatan Ampera atau makanannya Pempek yang pada tahun 2023 didapuk sebagai salah satu makanan seafood terenak di dunia.
Lalu coba anda dengar kata Provinsi Bengkulu, apa yang akan langsung terbayang oleh anda Tidak ada, ‘kan! Jujur saja saya hanya bisa membayangkan bunga rafflesia atau makanannya tempoyak. Namun nyatanya apa yang telah saya pikirkan tidak banyak dikenal oleh kalangan luas.
Orangnya Terlalu Santai
Tidak perlu kaget jika kamu mengikuti acara di Bengkulu dan acaranya molor dua jam dari yang dijadwalkan. Di tempat lain, jam mungkin dilihat sebagai alat untuk mengukur waktu. Tapi di Bengkulu, jam adalah semacam “petunjuk waktu,” bukan batasan yang kaku. Acara yang dijadwalkan pukul 08.00 bisa saja dimulai jam 09.00, 10.00, atau sesuka hati — yang penting, tetap asyik!
Entah itu acara anak TK, SMA, Mahasiswa, atau acara yang diadakan pemerintah sekalipun, maka akan tetap molor. Alasan yang paling sering didengar adalah bahwa yang diundang masih di jalan alias sedang OTW, namun kadang saya yakin bahwa yang diundang sedang bermesraan dengan guling dan enggan melepaskannya.
Perilaku santai masyarakat Bengkulu ini bukanlah hal yang baru terjadi dalam kurun dekade terakhir, namun merupakan kebiasaan turun-temurun yang telah dijaga dan diwarsikan sejak zaman dahulu.
Hal ini dibuktikan dengan filosofi hidup masyarakat Bengkulu yang berbunyi “Ikan Sejerek, Bere Secupak, Madar” yang kalau diartikan ke dalam bahasa Indonesia kurang lebih berarti “Ikan Seikat, Beras Satu Liter, Nyantai.”
Pepatah ini mungkin tampak sederhana, namun kata “madar” pada akhir kalimat memberikan sentuhan yang berbeda. Bagaimana tidak, pepatah tersebut jika dimaknai secarah harfiah yakni dengan punya ikan seikat, beras satu liter, maka bisa nyantai.
Ini oleh beberapa orang dapat diartikan sebagai sikap yang terlalu lembek, dan ini dapat memunculkan asumsi bahwa kehidupan di Bengkulu lebih condong ke arah kemalasan.
Pepatah ini mungkin memuat kearifan lokal yang mendalam, tapi menurut saya lebih ke arah apakah hal itu benar-benar memotivasi untuk hidup lebih baik atau justru menjadi dalih untuk kehidupan yang terlalu santai. Bagaimanapun, pada akhirnya, interpretasi tergantung pada sudut pandang masing-masing individu.
Salah Satu Provinsi dengan Perokok Terbanyak di Indonesia
Dengan ketidakterkenalannya, Bengkulu ternyata memiliki satu catatan unik. Yakni tingkat perokok tertinggi nomor tiga di Indonesia. Menurut BPS pada tahun 2022, Provinsi Bengkulu memiliki 32,16 persen warga yang merokok, yang artinya lebih dari 700.000 penduduk.
Uniknya per 1 September 2023 Bengkulu meraih Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) Terendah di Indonesia, sangat keren sekali, bukan Mungkin seharusnya Bengkulu memiliki tagline baru: “Udara Segar dengan Aroma Tembakau yang Melayang.” Setiap nafas di sini seolah diiringi oleh balet kecil asap rokok yang menyatu dengan kabut pagi.
Masyarakat Bengkulu bisa menjadi ahli dalam mengolah pertemuan sosial. Sudah bukan rahasia lagi, ngopi sambil ngudud adalah ritual sakral yang tak terpisahkan di sini, apalagi ngudud setelah makan, beuhhh.
Jika Anda berada di Bengkulu, pastikan untuk selalu memakai helm full face. Ini bukan untuk menghindari laron, tapi sepeda motor yang dikemudikan oleh orang yang juga menyalakan sebatang rokok. Teman penulis pernah tidak bisa membuka mata selama satu minggu karena terkena bunga api rokok pengendara di depannya.
Adapun jika anda berangkat kerja di pagi hari, maka anda harus memperhatikan kebiasaan para siswa SMA di Bengkulu. Di pinggir jalan mereka akan duduk di atas motor dengan dengan rokok sebatang, segelas Power F, dan satu roti seribuan. Sungguh sarapan yang lezat dan bergizi.
Dalam semangat kebersamaan, Bengkulu mungkin harus menyelenggarakan lomba ngerokok sebagai salah satu atraksi festival lokal. Siapa yang bisa membentuk lingkaran asap rokok terbesar Atau mungkin akan ada seniman lokal yang berbakat mengolah bekas puntung rokok menjadi karya seni yang unik. Siapa sangka, asap rokok bisa menjadi sumber inspirasi, wkwk.
Gimana, sekarang udah paham kan kalau tinggal di Bengkulu itu kadang nggak enak Namun walau bagaimanapun, saya tetaplah pemuda Bengkulu yang dengan cintanya menginginkan agar Provinsi ini dapat bersaing dalam hal branding dengan daerah-daerah tetangga.
Penulis adalah Sarjana S1 Komunikasi dan Penyiaran Islam UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu











