Lambannya Pembangunan Rumah Korban Gempa Bengkulu, BNPB: Masalahnya Adalah Kecepatan Pemkot

Perkiraan Waktu Baca: 2 menit

Satujuang, Bengkulu- Pembangunan rumah korban gempa Bengkulu yang belum juga dibangun sudah 6 bulan lamanya tergantung dengan kecepatan pihak Pemerintah Kota (Pemkot) Bengkulu.

Pihak BNPB yang dikonfirmasi Satujuang.com terkait masalah tersebut menegaskan bahwa uang bantuan sudah disalurkan ke Pemkot.

“Untuk bantuan itu dari BNPB sudah disalurkan ke Pemkot Bengkulu pada bulan Mei lalu, ada beberapa kendala teknis di Pemkot,” sampai mereka, Kamis (28/8/25).

Ia menjelaskan, pihak BNPB posisinya hanyalah sebagai pendampingan, sebatas persyaratan administratif.

“Masalahnya adalah kecepatan pemkot yang belum optimal,” paparnya.

Sebelumnya seperti diketahui 6 bulan pascagempa magnitudo 6,3 yang mengguncang Bengkulu pada 23 Mei 2025, ratusan warga terdampak masih menanti janji bantuan pemerintah.

BNPB sebelumnya memastikan akan memberikan dana stimulan bagi rumah rusak, yakni Rp60 juta untuk kategori rusak berat, Rp30 juta rusak sedang, dan Rp15 juta rusak ringan.

Namun hingga kini bantuan tersebut tak kunjung cair. Realita di lapangan, korban justru terpaksa bertahan dalam kondisi serba terbatas.

Salah satu korban, Meiza Zulfatni, warga Perumahan Rafflesia Asri Betungan, mengaku masih tidur di sisa dapur rumahnya yang roboh dengan atap terpal seadanya.

“Awalnya rumah saya disurvei masuk kategori rusak berat, lalu berubah jadi rusak sedang. Sampai sekarang janji bantuan tidak kunjung datang, kami tidur di puing rumah,” ungkapnya, Rabu (27/8).

Di sisi lain, Kepala BPBD Kota Bengkulu, Wilhopi, menegaskan pihaknya sudah mengirim seluruh berkas ke BNPB.

“Berkas sudah kami lengkapi, tapi masih menunggu verifikasi Inspektorat BNPB. Itu kewenangan BNPB, bukan BPBD,” ujarnya.

Tercatat sebanyak 121 rumah rusak akibat gempa terdiri dari 33 kategori rusak berat, 21 rusak sedang, dan 67 rusak ringan. Meski demikian, tak satu pun bantuan sudah diterima warga hingga saat ini.

Janji pemerintah yang semula membawa harapan kini berbalik menjadi kekecewaan. Sementara warga korban gempa masih hidup di tengah puing, rumah retak, dan kontrakan yang semakin memberatkan ekonomi keluarga.

Nampaknya kedatangan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka ke lokasi kejadian di bulan Mei lalu tidak serta merta membuat persoalan ini selesai dengan cepat.

Begitupun dengan pihak Pemprov Bengkulu yang bahkan sempat heboh didunia maya soal upaya pengumpulan dana dari berbagai pihak untuk membantu korban gempa pun nampaknya tidak membuat persoalan di sana cepat selesai.

Kini warga hanya bisa berharap, agar janji-janji yang disampaikan kepada mereka segera direalisasikan. (Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *