Konflik Agraria Pino Raya Membara: Petani Ditembak Saat Hadang Bulldozer Perusahaan

Satujuang, Bengkulu Selatan- Konflik agraria di kebun sawit Pino Raya, Bengkulu Selatan, memuncak dengan penembakan petani yang menghadang bulldozer perusahaan, Senin (24/11/25).

Suara mesin bulldozer yang meraung sejak pagi berubah menjadi kepanikan ketika dentuman tembakan memecah sunyi kebun sawit.

Buyung, seorang petani sepuh, roboh bersimbah darah setelah peluru menembus dada kanannya.

Di tengah teriakan warga yang berhamburan menyelamatkan diri, konflik agraria yang selama bertahun-tahun membara akhirnya benar-benar meledak.

Direktur Eksekutif Walhi Bengkulu, Dodi Faisal, menyebut peristiwa ini sebagai tragedi yang lahir dari sengketa lahan yang tak pernah diselesaikan secara adil.

“Aksi penembakan itu terjadi ketika masyarakat menahan bulldozer perusahaan yang hendak mendoser tanaman milik warga. Konflik ini sudah lama. Hari ini masyarakat bertahan, lalu terjadi penembakan oleh oknum pengaman perusahaan,” ujarnya.

Di lapangan, warga masih mengingat jelas bagaimana situasi berubah dalam hitungan detik.

Sekitar pukul 12.45 WIB, saat mereka mengepung alat berat yang kembali meratakan tanaman, salah satu pihak keamanan perusahaan bernama Ricky mengangkat pistol dan mengarahkannya ke kerumunan.

Tembakan pertama menghantam Buyung, membuat warga yang sebelumnya bernegosiasi berubah panik.

Sebagian warga mengejar pelaku, sementara sebagian lain mencoba menolong korban dengan merobek baju untuk menutup luka yang mengucur deras.

Empat petani lainnya, Linsurman, Susanto, Edi Hermanto, dan Suhardin, jatuh menyusul, terkena peluru di dengkul, paha, rusuk bawah ketiak, dan betis.

Mereka dibopong melewati semak kebun dengan motor dan tandu seadanya, di antara gaduh dan tangis warga yang menahan napas setiap kali salah satu korban mengeluh sesak atau mulai kehilangan kesadaran.

Bagi petani Pino Raya, lahan itu bukan sekadar tanah, melainkan tempat anak mereka tumbuh, dapur berasap, dan harapan hidup mereka diletakkan.

Itulah sebabnya mereka menahan bulldozer yang, menurut mereka, sudah tiga kali meratakan tanaman tanpa penyelesaian konflik yang jelas.

Tragedi ini, kata Walhi, menjadi penanda betapa rentannya warga desa ketika berhadapan dengan kekuatan modal tanpa perlindungan memadai dari negara.

Di RSUD Bengkulu Selatan, keluarga para petani masih menunggu kabar dengan mata sembab, berharap nyawa mereka bisa diselamatkan.

Sementara itu, di kebun sawit tempat tragedi itu terjadi, tanah masih merekam jejak darah yang belum sempat hilang mengisyaratkan luka yang jauh lebih dalam dari sekadar sengketa lahan. (Red)

Baca Juga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *