Satujuang, Bengkulu- Puluhan mahasiswa dari Aliansi Bengkulu Mengingat mendesak Kantor Wilayah Badan Pertanahan Nasional (BPN) Bengkulu untuk menyelesaikan konflik agraria yang memanas antara PT Agro Bengkulu Selatan (ABS) dan petani Pino Raya, Senin (1/12/25).
Massa aksi memulai long march dari Stadion Sawah Lebar menuju Kanwil BPN, membawa spanduk dan poster berisi protes terhadap dugaan pelanggaran izin serta tindakan intimidatif perusahaan.
Aksi tersebut dibuka dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya, dilanjutkan orasi dari perwakilan BEM berbagai kampus secara bergantian.
Para orator menyoroti bahwa konflik agraria ini telah berlangsung bertahun-tahun tanpa penyelesaian yang jelas.
Situasi kembali memuncak menyusul insiden penembakan yang diduga dilakukan aparat keamanan PT ABS terhadap lima petani pada akhir November lalu.
Satu dari lima korban penembakan dilaporkan kritis dan kini menjalani perawatan intensif, namun pihak perusahaan dan aparat keamanan belum memberikan penjelasan resmi terkait insiden tersebut.
“Bagaimana mungkin perusahaan tetap beroperasi tanpa izin? Kami meminta pemerintah melalui BPN segera menutup PT ABS,” tegas Presiden Mahasiswa UNIB, Ramadhan Z, dalam orasinya.
Selain pencabutan izin perusahaan, massa juga mendesak BPN untuk mempercepat penanganan administrasi sengketa lahan dan memastikan pemulihan hak-hak petani.
Massa meminta Kepala Kanwil BPN Bengkulu untuk menemui mereka, namun pagar kantor masih tertutup hingga pukul 12.30 WIB, dan negosiasi dengan aparat belum mencapai titik temu.
Aksi mahasiswa ini mendapatkan pengawalan ketat dari aparat kepolisian. Arus lalu lintas di sekitar lokasi sempat tersendat karena konsentrasi massa yang bertahan di depan gerbang kantor BPN. (Red)











