Di Tengah Desakan Pembubaran, Program MBG Buktikan Peran Vital Saat Tanggap Darurat Bencana

2 menit baca

NTT, Satujuang.com – Di tengah gelombang kritik hingga desakan pembubaran dari sebagian pihak, Program Makan Bergizi Gratis (MBG) justru menunjukkan sisi manfaat strategis yang jarang tersorot publik.

Tak sekadar memberikan penambahan nutrisi harian bagi anak sekolah, infrastruktur jaringan dapur MBG terbukti mampu bertransformasi secara instan menjadi benteng pertahanan logistik saat kondisi darurat bencana.

Sisi lain keunggulan program ini mengemuka saat Bupati Nagekeo Simplisius Donatus melapor langsung kepada Presiden Prabowo Subianto dalam kunjungan kerjanya di Nusa Tenggara Timur (NTT), Kamis (27/8/26).

Dalam situasi krisis pengungsian di daerahnya, 11 tenaga dapur MBG langsung diterjunkan untuk mengelola dapur umum dan memproduksi ribuan porsi makanan siap saji bagi para pengungsi.

“Perlu diketahui bahwa dapur umum yang kami punyai ini dibantu oleh 11 tenaga dapur MBG. Jadi penanganan makanan siap saji bagi masyarakat pengungsi ditangani langsung oleh karyawan dapur MBG,” ungkap Simplisius.

Fleksibilitas ini sejalan dengan rancangan sistemik Badan Gizi Nasional (BGN).

Jaringan Satuan Pelayanan (Satpel) BGN yang tersebar hingga pelosok daerah sejatinya dirancang memiliki standar higienitas tinggi, kapasitas olah pangan skala besar, serta akses rantai pasok yang siap dialihfungsikan menjadi disaster response hub (pusat logistik bencana) secara cepat tanpa perlu membangun infrastruktur baru dari nol.

Di luar fungsi krisis, program MBG juga berfungsi sebagai penggerak ekonomi arus bawah.

Integrasi Satpel BGN mewajibkan penyerapan bahan baku segar dari petani lokal, peternak, dan nelayan di sekitar wilayah operasional.

Pola ini tak hanya memotong rantai distribusi yang memicu tengkulak, tetapi juga menciptakan lapangan kerja baru bagi warga lokal.

Di saat polemik anggaran dan narasi pembubaran terus disuarakan penentangnya, fakta lapangan di Nagekeo mengonfirmasi keberadaan jaringan dapur MBG sebagai aset ketahanan nasional multifungsi.

Kehadirannya tidak hanya memangkas birokrasi penanganan bencana, tetapi juga memastikan negara dapat hadir memberi bantuan pangan secara presisi di masa-masa sulit. (Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *