Iyud Dwi Mursito Ingin Kembalikan PWI Bengkulu Sebagai Rumah Bersama Wartawan

4 menit baca

Bengkulu, Satujuang.com – Menegaskan langkah politiknya bersih dari intervensi modal maupun kepentingan kelompok media tertentu, bukan titipan korporasi, Iyud Dwi Mursito ingin kembalikan PWI Bengkulu sebagai rumah bersama wartawan untuk periode 2026–2031.

Jurnalis senior yang sarat pengalaman ini secara resmi masuk dalam gelanggang kontestasi pemilihan ketua dengan membawa komitmen pembaruan yang total.

Ia berfokus pada pemulihan marwah organisasi, penguatan kompetensi, serta perlindungan hak-hak jurnalis arus bawah di Bumi Rafflesia.

Kritik Keras Budaya Seremonial: “Jangan Cuma Jadi Papan Nama!”

Iyud memandang Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) belakangan ini berjalan terlalu elitis, kaku, dan cenderung berjarak.

Organisasi profesi tertua ini terkesan hanya menunjukkan eksistensinya secara musiman saat mendekati agenda suksesi kepemimpinan semata.

Ia bertekad merombak total kebiasaan tersebut agar PWI Bengkulu kembali berdenyut dan dirasakan manfaat nyatanya dalam kehidupan sehari-hari para jurnalis.

“Saya maju bukan untuk memenuhi ambisi pribadi, bukan pula untuk kepentingan perusahaan, kelompok, atau bisnis tertentu. Saya ingin PWI menjadi rumah besar yang lebih hidup, sehat, dan benar-benar bermanfaat bagi anggotanya. Kalau organisasi hanya menjadi papan nama, maka anggota tidak akan pernah merasakan manfaatnya,” tegas Iyud.

Bagi Iyud, PWI ke depan harus dikelola secara kolektif dengan mengedepankan prinsip keterbukaan, komunikatif, dan tidak membangun sekat birokrasi di antara para pengurus dengan anggota di lapangan.

“Rumah besar ini harus dirawat bersama. PWI harus menjadi tempat di mana setiap wartawan, tanpa memandang latar belakang medianya, merasa dihargai, didengar, dan diperjuangkan keselamatannya serta profesinya,” tambahnya.

Menjawab Tantangan Era Jurnalisme Digital dan Tekanan Ekonomi

Sebagai praktisi yang masih aktif di ruang redaksi siber dan dunia akademis, Iyud sangat memahami betapa beratnya tekanan yang dihadapi wartawan saat ini.

Perkembangan teknologi dan algoritma media sosial sering kali mengorbankan kualitas produk jurnalistik demi mengejar kecepatan materiil.

Ditambah lagi dengan isu kesejahteraan dan tekanan ekonomi media pasca-runtuhnya era media cetak yang membuat jurnalisme lokal kerap berada di posisi rentan.

“Tantangan wartawan saat ini semakin kompleks. Tekanan ekonomi media, derasnya arus informasi, serta tuntutan profesionalisme membuat kita harus bekerja lebih aktif dan terarah. PWI tidak boleh hanya hidup menjelang konferensi saja. Wartawan hari ini membutuhkan ruang belajar, ruang advokasi hukum, ruang kolaborasi, dan ruang untuk tumbuh bersama,” ulasnya panjang lebar.

Matang Ditempa Lapangan: Meniti Karier dari Bawah

Kematangan emosional dan manajerial Iyud dibentuk oleh proses redaksional yang panjang dan berdarah-darah.

Lahir di Boyolali pada 9 September 1985 dan tumbuh besar di Kabupaten Mukomuko, ketertarikan Iyud pada dunia pers mengakar kuat sejak menempuh pendidikan D3 Ilmu Jurnalistik di Universitas Bengkulu (lulus 2007).

Ia memulai karier profesionalnya benar-benar dari nol sebagai reporter lapangan di Harian Bengkulu Ekspress pada tahun 2009.

Dedikasinya yang tinggi membawa Iyud sukses melompati berbagai posisi strategis di ruang redaksi:

  • Reporter Lapangan / Wartawan Daerah
  • Redaktur Halaman
  • Koordinator Liputan (Korlip)
  • Wakil Pemimpin Redaksi
  • Pemimpin Redaksi (Selama 5 tahun hingga 2022)

Sadar akan adanya disrupsi media, jurnalis yang telah mengantongi sertifikat UKW Tingkat Utama Dewan Pers sejak 2016 ini gesit melakukan transformasi digital.

Ia mendirikan sekaligus memimpin dua media siber lokal, yakni Bengkulunetwork.com dan Ikobengkulu.com.

Keseimbangan Intelektual: Dosen, Pegiat Sosial, dan Penulis Buku

Di sisi lain, Iyud tetap menjaga keseimbangan akademisnya. Ia berhasil merengkuh gelar Sarjana Ilmu Komunikasi di Universitas Dehasen (2015) dan menyelesaikan pendidikan Magister Ilmu Komunikasi di Universitas Bengkulu (2022).

Kepakarannya pun ditularkan kepada generasi muda melalui perannya sebagai dosen jurnalistik di UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu, STAI Miftahul Ulum Mukomuko, serta menjadi tutor di Universitas Terbuka.

Kepeduliannya terhadap masa depan pers modern juga dituangkan dalam buku karangan pribadinya berjudul “Jurnalisme Digital: Antara Fakta, Algoritma, dan Etika”.

Di luar itu, ia aktif di Mafindo (Masyarakat Anti Fitnah Indonesia), IPSA, dan AMSI (Asosiasi Media Siber Indonesia).

Misi Merajut Solidaritas dan Menjaga Marwah Profesi

Menjelang Konferprov PWI Bengkulu yang puncaknya dijadwalkan bakal digelar pada Sabtu, 18 Juli 2026 mendatang, Iyud berharap momentum ini dijadikan ajang adu ide yang sehat, bukan sekadar rebutan takhta yang merusak pertemanan sesama pekerja pers.

Ia ingin membawa energi baru yang segar tanpa menghilangkan nilai-nilai dasar pers, yaitu independensi, kode etik, dan tanggung jawab sosial yang luhur kepada publik.

“Yang ingin saya bangun adalah PWI yang aktif, bermanfaat, dan bermartabat. Organisasi ini harus menjadi tempat wartawan meningkatkan kapasitas, menjaga marwah profesi, dan memperkuat posisi pers di tengah masyarakat. Karena pada akhirnya, yang terpenting bukan sekadar siapa yang terpilih, tetapi bagaimana PWI ke depan bisa lebih kuat dan menghidupi seluruh anggotanya,” pungkas Iyud penuh optimisme. (Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *