Rocky Gerung Prediksi Urgensi Dibalik Pertemuan Prabowo dan Megawati

3 menit baca

Satujuang, Jakarta – Pengamat politik sekaligus akademisi, Rocky Gerung menyoroti intensitas pertemuan antara Presiden RI, Prabowo Subianto dan Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri, yang dinilai semakin intensif dalam sebulan terakhir.

Pertemuan terkini berlangsung pada Peringatan Hari Lahir Pancasila di Gedung Pancasila, Kompleks Kementerian Luar Negeri RI, Jakarta Pusat pada Senin (2/6).

Sebelumnya, keduanya juga sempat berbincang di kediaman Megawati di Jalan Teuku Umar, Menteng, Jakarta Pusat pada Senin (7/4), menandai dua pertemuan dalam rentang waktu kurang dari 6 minggu.

Kedua tokoh ini sebenarnya sering dikaitkan dengan hubungan hangat Prabowo dan mantan Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Namun, pertemuan dengan Megawati memunculkan spekulasi baru bahwa ada “jalan kedua” yang tengah dirintis oleh Gerindaria di ranah PDIP, padahal selama ini kedekatan Prabowo lebih sering diasosiasikan dengan lingkaran Jokowi.

Selepas momentum Hari Lahir Pancasila, komunikasi tertutup antara Prabowo dan Megawati masih berlanjut melalui pesan-pesan rahasia yang disampaikan lewat perantara Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad dan Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi.

Menurut Rocky Gerung, terdapat 2 urgensi utama yang melatar belakangi rangkaian pertemuan ini.

Pertama, sinyal PDIP untuk bergabung dalam koalisi pemerintahan; Kedua, persiapan wacana pemakzulan Wakil Presiden RI Gibran Rakabuming Raka. Hal ini diuraikan dalam video yang diunggah di kanal YouTube “Rocky Gerung Official” pada Sabtu (7/6/25).

“Kita perlu mencari kata kunci yang dapat membuka tabir di balik isu-isu politik terkini, terutama terkait pertemuan Ibu Mega dan Pak Prabowo pada peringatan Hari Pancasila,” kata Rocky dalam video tersebut.

Rocky menambahkan, “Jika kita telaah urutan peristiwa setelah 2 Juni, pertama pertemuan langsung di Gedung Pancasila, kemudian silaturahmi tim Pak Prabowo dengan Ibu Mega, maka terlihat adanya agenda yang bersifat purposif.”

Ia memaparkan 2 kemungkinan tujuan, membujuk Megawati untuk memberi restu masuknya PDIP dalam kabinet, atau mengantisipasi tuntutan purnawirawan TNI yang mendesak pemakzulan Gibran.

“Forum Purnawirawan TNI memang mendorong pemakzulan Gibran, dan meski kelompok ini ‘hanya’ purnawirawan, mereka mewakili aspirasi back mind masyarakat sipil,” ujar Rocky.

Lebih jauh, Rocky menegaskan bahwa Prabowo membutuhkan legitimasi politik tambahan.

Sudah lebih dari 100 hari sejak pemerintahan terbentuk, namun PDIP masih belum menunjukkan kejelasan sikap untuk merapat ke koalisi Gerindaria.

“Konsentrasi pertama adalah keinginan Prabowo untuk memperoleh legitimasi, karena PDIP selaku partai yang diketuai Megawati belum memberi sinyal apa pun terkait kemungkinan bergabung,” jelas mantan dosen filsafat Universitas Indonesia tersebut.

Rocky Gerung juga menyoroti bahwa kini pilihan antara melakukan reshuffle kabinet atau mengikuti tuntutan pemakzulan Gibran semakin mendesak.

“Pertanyaan kuncinya, mana yang lebih urgent, reshuffle yang menunggu lampu hijau PDIP, atau wacana pemakzulan Gibran yang sudah menghangat dalam perbincangan politik?” ungkapnya.

Menurut penilaian Rocky, rangkaian pertemuan dan saling titip pesan ini menunjukkan bahwa PDIP sedang dihadapkan pada dua opsi, bergabung dengan pemerintahan atau mendorong Gibran turun dari kursi wapres.

“Itu 2 hal yang sebenarnya sedang diperbincangkan secara sosiologis, bahkan secara konstitusional,” pungkasnya. (AHK)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *