Bengkulu, Satujuang.com – Polemik pemalsuan merek minyak goreng di Bengkulu memasuki babak baru setelah pihak yang mengklaim dari PT Cikal Kencana Jaya memberikan klarifikasi resmi melalui video.
Pihak perusahaan membantah keras tudingan yang menyebut mereka terlibat dalam aktivitas produksi maupun pengemasan minyak goreng bermasalah di Bengkulu tersebut.
PT Cikal Kencana Jaya menegaskan bahwa perusahaan sama sekali tidak mengetahui adanya aktivitas pengemasan ilegal yang mencatut identitas resmi mereka.
Pihak manajemen merasa tidak memiliki hubungan apa pun dengan polemik yang kini sedang menjadi sorotan tajam masyarakat dan aparat hukum.
“Itu bukan produk kami. Kami tidak pernah mengetahui perihal tersebut dan tidak ada sangkut paut dengan perusahaan kami,” ungkap mereka dari video yang didapatkan redaksi, Kamis (14/5/26).
Mereka memastikan tidak pernah memberikan izin atau kerja sama kepada pihak mana pun untuk memproduksi minyak goreng di lokasi yang bermasalah.
Perusahaan menekankan bahwa selama ini mereka hanya memproduksi satu merek resmi yang dikenal dengan nama produk premium nonsubsidi, ALMITA.
Merek ALMITA diklaim telah memiliki legalitas lengkap serta terdaftar resmi di Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual Kementerian Hukum Republik Indonesia.
Selain membantah keterlibatan, pihak PT Cikal Kencana Jaya mengaku tidak mengenal oknum-oknum yang disebut dalam video viral di media sosial.
Manajemen menduga ada pihak tertentu yang dengan sengaja menggunakan identitas dan perizinan perusahaan mereka tanpa izin resmi untuk aktivitas ilegal.
Di tengah situasi yang memanas, PT Cikal Kencana Jaya justru memberikan apresiasi kepada aparat penegak hukum atas pengungkapan kasus ini.
“Kami mengucapkan terima kasih kepada tim Polda Bengkulu dan BPOM Bengkulu atas keberhasilan mengungkap kasus ini,” tulis manajemen perusahaan tersebut.
Langkah Polda Bengkulu dalam membongkar praktik pemalsuan ini dinilai sangat membantu perusahaan agar nama baik mereka tidak semakin tercemar.
Video ini muncul menyusul pernyataan dari pihak PT Minyak Sawit Indonesia yang menegur Gubernur Bengkulu Helmi Hasan secara terbuka.
Pemilik merek dagang Minyak Goreng Minyaku itu tidak terima karena perusahaan mereka digunakan dalam aksi dugaan mafia minyak goreng di Bengkulu.
Diketahui, awal terbongkarnya dugaan permainan dugaan mafia minyak goreng ini saat pengungkapan di Kabupaten Bengkulu Tengah.
Disana Polisi mendapatkan 1500 dus minyak goreng dengan merek Minyakita palsu yang rencananya akan didistribusikan ke berbagai daerah terutama ke Provinsi Jawa Barat.
Hasil pengembangan ternyata Minyakita tersebut dikemas di gudang produksi pengemasan yang berada di Kota Bengkulu.
Tak bisa dielak, saat digeledah ditemukan ratusan ribu kemasan minyakita palsu di gudang produksi tersebut.
Kasus ini menjadi sorotan publik, sebab lokasi tersebut juga merupakan tempat pengemasan minyak goreng Bumi Merah Putih (BMP).
Minyak goreng BMP sendiri, adalah produk yang sempat digadang-gadangkan menjadi kebanggaan dari Bengkulu bahkan muncul klaim minyaknya dari sawit Bengkulu sendiri.
Minyak ini viral diberitakan oleh berbagai media nasional dan lokal, saat kunjungan langsung dari Gubernur Bengkulu Helmi Hasan ke sana.
Saat itu ada ribuan botol minyak goreng merek BMP yang dipajang, bahkan beberapa wartawan kegirangan karena kebagian.
Namun, sayangnya saat penggeledahan ribuan botol BMP tak terlihat, tidak diketahui kemana hilangnya. Pihak Polda pun belum mau menjelaskan.
Jika ditelusuri lebih dalam, tak heran mengapa Gubernur kesana. Sebab manager minyak goreng BMP, adalah Riswan SE dikenal merupakan orang dekat Gubernur.
Sosok itu sempat digadang-gadangkan masuk ke manajemen Bank Bengkulu, namun gagal. Kini Riswan diketahui menjabat sebagai Komisaris PT Bimex sebuah BUMD milik Pemprov Bengkulu.
Saat ramainya pemberitaan soal penggeledahan gudang tersebut, terungkap ternyata usaha itu belum mengantongi izin dari BPOM.
Ditambah dengan keterangan berbagai pihak yang muncul baru-baru ini, maka patut dicurigai bahwa BMP pun cacat secara hukum.
Publik sekarang menanti kinerja Polda Bengkulu, apakah penyelidikan akan turut menyeret BMP atau hanya sebatas soal Minyakita yang dipalsukan.
Sebab, ribuan botol BMP yang sempat dipajang dan puji-puji saat kunjungan Gubernur Bengkulu belum jelas statusnya seperti apa. (Red)











