Jadi Jualan Kampanye Pilkada, Jembatan Vital di Lubuk Sandi Seluma Kini Telantar dan Rusak Parah

3 menit baca

Seluma, Satujuang.com – Kondisi Jembatan Air Arang Sapat yang menghubungkan Dusun Tengah dengan Desa Arang Sapat, Kecamatan Lubuk Sandi, Kabupaten Seluma, kian memprihatinkan.

Ironisnya, infrastruktur vital yang sempat dijadikan komoditas jualan kampanye politik saat kontestasi Pilkada lalu ini justru telantar tanpa adanya penanganan serius dari pemerintah daerah.

Pantauan langsung di lapangan pada Senin (22/6/26) memperlihatkan tingkat kerusakan jembatan yang terus mengalami degradasi parah.

Jika pada tahun 2024 lalu lantai jembatan masih didominasi papan kayu yang relatif utuh, kini strukturnya banyak yang telah patah, lapuk, dan berlubang menganga sehingga mengancam keselamatan warga yang melintas setiap hari.

Situasi ini memicu ironi dan kekecewaan mendalam bagi masyarakat.

Infrastruktur yang dulunya digerakkan oleh tim sukses (Timses) sebagai simbol lemahnya perhatian pemerintah masa lalu, kini justru menjadi cermin evaluasi bagi pemerintahan yang sedang berjalan.

Hampir dua tahun kepemimpinan Bupati Seluma Teddy Rahman berlangsung, namun janji perbaikan terhadap jembatan yang menjadi akses utama warga Desa Arang Sapat dan Desa Cawang ini belum juga terealisasi.

Krisis Infrastruktur Merembet ke Jembatan Air Paungan

Derita warga di wilayah Lubuk Sandi tidak berhenti di situ saja. Kondisi serupa yang tak kalah mengenaskan terjadi pada Jembatan Air Paungan yang menghubungkan Desa Arang Sapat dengan Desa Cawang.

Kerusakan pada jembatan tersebut semakin parah dan dinilai menjadi teror keselamatan bagi para pengguna jalan setiap harinya.

Lantai jembatan yang sebagian besar terbuat dari susunan papan kayu kini dipenuhi lubang-lubang besar.

Warga yang melintas, baik pejalan kaki maupun pengendara sepeda motor, terpaksa harus ekstra waspada karena risiko kecelakaan fatal dapat terjadi sewaktu-waktu.

Bagi masyarakat setempat, keberadaan kedua jembatan tersebut bukan sekadar pelengkap fasilitas penghubung antarwilayah, melainkan urat nadi utama bagi aktivitas ekonomi, pendidikan, dan sosial.

Setiap pagi anak-anak sekolah harus bertaruh nyawa melintasi jembatan yang bolong, begitu pula dengan para petani yang hendak membawa hasil perkebunan mereka keluar desa.

Berdasarkan penuturan warga, lantai papan yang patah dan celah lantai yang renggang sudah berulang kali memicu kecelakaan hingga membuat pengendara sepeda motor terperosok.

Swadaya Gotong Royong Warga Terbentur Keterbatasan

Kesal karena lambannya respons dinas terkait, warga dari desa-desa yang memanfaatkan akses ini sebenarnya tidak tinggal diam.

Mereka berulang kali melakukan perbaikan darurat secara swadaya melalui kegiatan gotong royong menggunakan material seadanya.

Namun, tingginya mobilitas kendaraan membuat papan-papan pengganti tersebut cepat kembali hancur.

“Kami sudah berulang kali gotong royong memperbaiki. Tapi kemampuan masyarakat terbatas. Ini seharusnya menjadi tanggung jawab pemerintah karena menyangkut keselamatan warga,” ujar salah seorang warga setempat kesal.

Hingga berita ini diturunkan, belum terlihat adanya tanda-tanda langkah konkret baik dari Pemerintah Kabupaten Seluma maupun Pemerintah Provinsi Bengkulu untuk mengalokasikan anggaran perbaikan permanen pada dua akses vital tersebut.

Kondisi Jembatan Air Arang Sapat dan Jembatan Air Paungan ini menjadi rapor merah sekaligus penegasan bahwa pembangunan infrastruktur dasar di Kabupaten Seluma jangan hanya manis di dalam narasi ekspose meja kerja, melainkan harus menyentuh pemenuhan standar keselamatan bagi masyarakat kecil di pelosok daerah. (Satujuang/da)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *