Bengkulu, Satujuang.com – Bakal calon Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Provinsi Bengkulu periode 2026–2031, Iyud Dwi Mursito, membawa visi baru dalam bursa pemilihan.
Iyud menggagas program unggulan bertajuk PWI Bantu Rakyat sebagai agenda prioritasnya, Sabtu (11/7/26).
Langkah ini diambil untuk memperluas peran organisasi agar tidak hanya berfokus pada internal wartawan, melainkan juga hadir secara nyata di tengah persoalan sosial masyarakat.
Menurut Pemimpin Redaksi Bengkulunetwork.com ini, kedekatan emosional dan intensitas wartawan yang tinggi di lapangan harus dikonversi menjadi gerakan sosial yang terorganisasi dan berkelanjutan.
Melalui program ini, PWI Bengkulu ke depan diproyeksikan untuk aktif dalam penggalangan bantuan bencana, pendampingan warga kurang mampu, advokasi pelayanan publik, hingga bantuan pendidikan prasejahtera.
Iyud menegaskan kesiapannya untuk membangun sinergi taktis bersama Gubernur Bengkulu serta jajaran pemerintah daerah guna menyelaraskan fungsi kontrol sosial dengan program kesejahteraan rakyat.
“PWI bukan hanya organisasi profesi yang mengurus wartawan. PWI juga harus hadir di tengah masyarakat, mendengar persoalan rakyat dan ikut memberikan solusi melalui kemampuan, jaringan, serta kolaborasi yang dimiliki,” kata Iyud.
Kendati siap berikhtiar bersama pemerintah dan dunia usaha, Iyud memastikan bahwa independensi serta daya kritis jurnalistik PWI tidak akan luntur.
“Berkolaborasi bukan berarti kehilangan daya kritis. Wartawan tetap harus mengawasi pemerintah, tetapi dalam persoalan kemanusiaan dan kepentingan rakyat, tidak ada alasan untuk tidak bekerja bersama,” tegasnya.
Di sisi internal, pengurus Bidang Media Cetak PWI Provinsi Bengkulu ini menyatakan bahwa keputusannya maju bukan demi mengejar status, jabatan, atau pemenuhan ambisi pribadi semata.
Ia menyoroti pentingnya merevitalisasi fungsi organisasi agar tidak hanya terkesan aktif dan dinamis saat menjelang konferensi wilayah atau pemilihan pengurus baru saja.
“Keinginan saya maju bukan sekadar ingin menjadi ketua. Jabatan bukan tujuan utama. Yang lebih penting adalah bagaimana PWI Bengkulu dapat hidup kembali, bergerak secara konsisten, serta dirasakan manfaatnya oleh seluruh anggota,” jelas Iyud.
Iyud berkomitmen untuk mengaktifkan kembali fungsi sekretariat sebagai pusat diskusi, pelatihan jurnalistik berkelanjutan, peningkatan kompetensi (UKW), serta pendampingan hukum.
Organisasi juga akan diarahkan untuk membantu membuka akses penguatan ekonomi anggota tanpa mengorbankan marwah independensi profesi.
Berbekal rekam jejak di dunia pers sejak tahun 2009 sebagai wartawan, redaktur, hingga jajaran manajemen media, Iyud menilai PWI harus bertransformasi secara cepat.
Organisasi wajib tanggap dalam menjawab tantangan disrupsi digital, perubahan model bisnis media, ancaman hukum, hingga perang melawan persebaran berita bohong (hoax) serta judi daring.
Guna mewujudkan hal tersebut, ia menjanjikan pola kepemimpinan kolektif-kolegial yang transparan, di mana posisi ketua bertindak sebagai penggerak dan bukan penguasa tunggal.
“Saya tidak ingin PWI hanya hidup di dalam sekretariat. PWI harus hadir di tengah rakyat. Ketika masyarakat mengalami kesulitan, PWI harus menjadi salah satu pihak yang bergerak membantu. Targetnya jelas: PWI Bengkulu harus hidup kembali,” pungkasnya. (Red)











