Bengkulu, Satujuang.com – Pemandangan bernada ironi kembali tersaji di Bengkulu. Di saat Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Bengkulu mengklaim pasokan bahan bakar minyak dalam kondisi aman, antrean Bio Solar justru terpantau kian mencekik dan mengular panjang setiap harinya.
Berdasarkan dokumen internal redaksi, krisis kelangkaan dan antrean panjang ini sebenarnya sudah mulai mewarnai jalanan Bengkulu sejak bulan Mei lalu.
Kondisi teranyar pada Jumat (10/7/26) pukul 09.00 WIB, antrean kendaraan angkutan di SPBU Bumi Ayu terpantau mengular hingga mencapai Simpang 4 Pagar Dewa dengan panjang estimasi berkisar 1 kilometer.
Ratusan mobil terpaksa berbaris berjam-jam di bahu jalan. Kondisi ini mulai dikeluhkan karena menutupi akses pintu masuk tempat usaha dan pertokoan milik warga sekitar.
Anehnya, fenomena tahunan yang menyengsarakan para sopir dan pelaku usaha lokal ini nampaknya sudah tidak menarik perhatian Gubernur Bengkulu lagi.
Sikap yang ditunjukkan pihak pemprov saat ini dinilai sangat kontras dengan semangat berapi-api yang sempat muncul saat masa kampanye Pilkada 2024 lalu.
Jeritan Sopir Angkutan: Antre Dua Jam Berujung Zonk
Fakta berbanding terbalik antara klaim instansi dengan realita lapangan ini juga terjadi di SPBU Kebun Tebeng, Kecamatan Ratu Agung, Kota Bengkulu.
Sejak pagi hari, deretan truk dan mobil boks sudah memenuhi jalur pengisian hingga meluber ke luar area pom bensin.
Salah seorang sopir angkutan, Yozel (42), meluapkan kekecewaannya karena harus pulang dengan tangki kosong setelah menghabiskan waktu produktifnya di jalanan.
“Saya sudah antre dua jam. Begitu hampir giliran, malah diberi tahu solar habis,” ujar Yozel dengan nada kecewa, Kamis (9/7).
Menurut Yozel, kondisi ini bukan lagi insiden sesaat melainkan sudah menjadi makanan sehari-hari para sopir dalam beberapa pekan terakhir.
Aroma Permainan “Kendaraan Helikopter” Mulai Terendus
Lebih lanjut, para pengemudi di lapangan mulai mencurigai adanya praktik kecurangan sistem distribusi institusional.
Ada indikasi kuat mengenai maraknya pergerakan armada tertentu yang melakukan pengisian BBM subsidi secara berulang kali (helikopter) di hari yang sama untuk ditimbun.
Yozel meminta aparat penegak hukum dan instansi terkait tidak menutup mata dan segera menelusuri kelompok yang diduga saling kenal tersebut.
“Kami curiga kendaraan yang antre itu-itu juga. Sopirnya saling kenal. Ini perlu ditelusuri. Sementara kami yang benar-benar membutuhkan justru kesulitan mendapatkan solar,” tegasnya.
Kadis ESDM Pilih Jawaban Singkat
Di sisi lain, Kepala Dinas ESDM Provinsi Bengkulu, Rico Yulyana, tetap bersikukuh bahwa pasokan energi ke Bumi Rafflesia tidak mengalami kendala teknis maupun kuota.
“Aman, distribusi lancar, stok aman,” jawab Rico singkat dikutip dari nusatara.id.
Sayangnya, Rico belum memberikan penjelasan substantif mengenai berapa volume total pasokan Bio Solar yang disalurkan ke Bengkulu, ataupun solusi konkret untuk mengurai kemacetan panjang yang merugikan iklim usaha warga saat ini.
Hingga kini, warga dan para sopir hanya bisa berharap adanya evaluasi total terhadap sistem pengawasan digital di setiap SPBU agar penyaluran subsidi tepat sasaran. (Red)











