Stamina Menurun Jangan Salahkan Usia, Primaya Hospital Waspadakan Diabetes dan Gangguan Hormon

3 menit baca

Jakarta, Satujuang.com – Penurunan stamina, tubuh mudah lelah, perubahan fungsi seksual, hingga kenaikan berat badan sering kali dianggap wajar sebagai konsekuensi penambahan usia.

Padahal, deretan gejala tersebut bisa jadi merupakan sinyal awal dari gangguan metabolisme atau sistem hormon yang memerlukan perhatian medis secara serius.

Isu kesehatan ini menjadi pembahasan utama dalam Seminar Primaya Metabolic Endocrine 2026 bertajuk “Translating Evidence into Impact: Practical Endocrinology for Real-World Care”.

Melalui forum ilmiah tersebut, Primaya Hospital mendorong masyarakat untuk lebih peka mengenali sinyal tubuh sebelum berkembang menjadi masalah kesehatan yang lebih kompleks.

Spesialis Penyakit Dalam UKRIDA Primaya Hospital, dr Marshell Tendean Sp.PD-KEMD FINASIM, menjelaskan bahwa penurunan kadar hormon testosteron pada pria memang terjadi seiring bertambahnya usia.

Berdasarkan data European Male Ageing Study (EMAS), penurunan testosteron secara nyata terlihat setelah memasuki usia 50 tahun.

Salah satu dampaknya adalah late-onset hypogonadism (LOH) atau kondisi kekurangan testosteron yang dialami sekitar 2,1% populasi pria, dengan prevalensi melonjak hingga 5,1% pada rentang usia 70–79 tahun.

Prevalensi LOH ini dilaporkan semakin meningkat pada pria yang mengalami obesitas maupun sindrom metabolik.

“Bertambahnya usia memang membawa berbagai perubahan pada tubuh, termasuk hormon. Namun, ketika perubahan seperti mudah lelah, penurunan stamina, atau gangguan fungsi seksual mulai menetap dan memengaruhi kualitas hidup, kondisi tersebut perlu dilihat lebih jauh,” ujar dr. Marshell Tendean.

“Kekurangan testosteron bukan sekadar persoalan usia atau fungsi seksual, tetapi dapat berkaitan dengan berbagai aspek kesehatan. Penting untuk melakukan evaluasi medis secara tepat dan tidak sekadar menganggapnya sebagai proses penuaan,” tambahnya.

Di sisi lain, gangguan metabolisme seperti diabetes tipe 2 juga sering kali berkembang secara diam-diam tanpa gejala klinis yang menonjol.

Materi seminar mencatat lebih dari 250 juta orang dewasa di dunia tidak menyadari bahwa mereka mengalami gangguan metabolisme, sehingga risiko komplikasi telah berkembang sebelum pengobatan dimulai.

Berdasarkan data IDF Diabetes Atlas 2025, Indonesia menempati peringkat kelima dunia untuk prevalensi diabetes usia 20–79 tahun dan peringkat ketiga dunia untuk jumlah kasus yang belum terdiagnosis.

Spesialis Penyakit Dalam Primaya Hospital Bekasi Barat, dr Khomimah Sp.PD-KEMD FINASIM, menegaskan bahwa pengelolaan diabetes tidak boleh hanya berpatokan pada angka gula darah semata.

“Diabetes bukan hanya persoalan gula darah. Prosesnya melibatkan berbagai mekanisme dan organ tubuh, sehingga pengelolaannya perlu melihat risiko pasien secara menyeluruh. Kita perlu bergeser dari pendekatan reaktif menjadi lebih proaktif, termasuk menjaga kesehatan jantung dan ginjal sejak awal,” terang dr Khomimah.

Mengingat diabetes tipe 2 melibatkan interaksi kompleks antara pankreas, hati, jaringan lemak, otot, ginjal, otak, saluran pencernaan, hingga sistem imun, kunci keberhasilannya terletak pada pencegahan komplikasi.

Melalui pendekatan yang holistik dan protektif terhadap organ, Primaya Hospital mengajak masyarakat untuk mengedepankan deteksi dini agar fungsi organ, produktivitas, serta kualitas hidup tetap terjaga dalam jangka panjang. (Rls)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *