Bengkulu, Satujuang.com – Baru-baru ini masyarakat Bengkulu sempat dihebohkan dengan statement mantan Wali Kota Bengkulu 2 Periode Helmi Hasan yang ingin merubah icon Bengkulu yang sudah dikenal dengan Bunga Rafflesia menjadi Merah Putih.
Sontak niat ini mendapatkan respons dari banyak kalangan, karena nama Bunga Rafflesia sudah mendarah daging di masyarakat Bengkulu sebagai identitas kuat yang sudah terbangun baik di tingkat nasional maupun internasional.
Penolakan keras pertama ditunjukkan oleh Ikatan Pemuda Penggerak Desa Indonesia (IPDA). Dengan alasan nama “Bumi Rafflesia” memiliki nilai sejarah dan kebanggaan tersendiri, merepresentasikan keunikan Bengkulu
“Kami menolak keras wacana Helmi Hasan ingin ganti identitas Bengkulu dari Bumi Rafflesia menjadi Bumi Merah Putih. Nama Bumi Rafflesia ini bukan hanya simbol, tapi juga brand yang telah menjadi bagian dari daya tarik Bengkulu di kancah nasional dan internasional. Mengubahnya akan menghilangkan identitas lokal yang selama ini diperjuangkan dan dihargai oleh masyarakat Bengkulu,” ungkap ketua IPDA, Ogi Lobes.
Menurut Ogi, mengubahnya menjadi sesuatu yang lebih umum seperti ‘Merah Putih’ bisa melemahkan identitas khas Bengkulu dan mengaburkan pesan unik yang kita tawarkan kepada dunia.
Selain IPDA penolakan juga muncul dari para mahasiswa yang seketika menggelar aksi unjuk rasa penolakan wacana dari lelaki yang sempat jadi buronan Kejaksaan tersebut.
Kamis (14/11/24) di Simpang Lima, Puluhan mahasiswa berorasi serta membentangkan spanduk yang bertuliskan “Bengkulu Itu Bumi Rafflesia Jangan Mau Diganti”.
Para mahasiswa menekankan bahwa nama “Bumi Rafflesia” memiliki nilai sejarah dan kebanggaan tersendiri, merepresentasikan keunikan Bengkulu sebagai rumah bagi bunga langka dan terbesar di dunia, Rafflesia Arnoldi.
Sementara, Helmi Hasan diketahui ingin mengubah Rafflesia menjadi Merah putih karena alasan ingin meluruskan sejarah.
“Provinsi Bengkulu ini bukan negeri Rafles, Rafles adalah nama penjajah. Tidak mungkin negeri kelahiran penjahit sang saka merah putih menggunakan nama penjajah,” ujar Helmi dalam video yang diunggah akun youtube @setialsofficial.
Dalam video singkat tersebut, Helmi sempat mengatakan bahwa Bunga Rafflesia dulu disebut dengan nama Bunga Kibut, dan bukan Rafles.
“Karena dulu penjajahnya rafles maka dinamakan dengan Rafflesia,” terangnya.
Nampaknya Helmi Hasan pun tidak mengerti membedakan antara Bunga Rafflesia dan Bunga Kibut, karena dari beberapa sumber yang didapatkan media ini, kedua bunga tersebut berbeda.
Bunga Rafflesia Arnoldi bahasa latin dari Padma Raksasa merupakan jenis parasit obligat, sementara Bunga Kibut atau bunga bangkai raksasa merupakan jenis talas-talasan.
Wacana Helmi Hasan ini nampaknya benar-benar akan dilakukannya jika berkaca dari perubahan nama persimpangan yang pernah dilakukannya saat menjadi Wali Kota Bengkulu yang juga mendapat respons keras dari berbagai pihak kala itu.
Perubahan nama simpang ini juga sempat jadi bahan perdebatan para calon Wali Kota Bengkulu yang diadakan KPU baru-baru ini, yang dinilai tidak bermanfaat dan justru membuat bingung masyarakat terutama para perantauan saat kembali ke kota Bengkulu.
Nilai-nilai sejarah asli kota Bengkulu pun disebut menjadi buram dan tergerus karena perubahan nama-nama simpang oleh lelaki kelahiran Lampung tersebut.
Selain itu, di tahun 2018, juga sempat pernah heboh beredar isu dirinya mau mengganti nama pulau Tikus menjadi Harapan dan Doa (HD) Island.
Mengisyaratkan namanya dan wakil Wali Kota saat itu yakni Helmi Hasan – Dedy Wahyudi yang jika disingkat akan menjadi HD. (Red)











