Studi Ungkap Dampak Cuaca Ekstrem pada Kekerasan Gender

2 menit baca

Satujuang- Para ilmuwan baru-baru ini menemukan hubungan signifikan antara peristiwa cuaca ekstrem dan peningkatan risiko kekerasan terhadap perempuan.

Studi yang dipimpin oleh Profesor Jenevieve Mannell dari University College London menunjukkan bahwa badai, banjir, dan tanah longsor yang semakin ekstrem akibat perubahan iklim berkontribusi pada meningkatnya pelecehan dan agresi dalam hubungan romantis.

Panas dan kelembapan tinggi juga diketahui mendorong perilaku agresif. Penelitian ini menganalisis data dari 156 negara antara 1993 hingga 2019, dan membandingkannya dengan data bencana dari 1920 hingga 2022 di 190 negara.

Temuan ini menunjukkan bahwa perempuan yang mengalami bencana terkait iklim cenderung lebih rentan terhadap kekerasan.

Bukti di lapangan menunjukkan fenomena ini di berbagai negara. Di Kenya, perempuan terpaksa meninggalkan rumah akibat frustrasi pria yang tertekan oleh kekeringan, sementara di Spanyol, gelombang panas meningkatkan risiko kekerasan pasangan.

Di Peru, perempuan harus menempuh jarak lebih jauh untuk mendapatkan air, meningkatkan kerentanan mereka terhadap kekerasan seksual.

Mannell menjelaskan bahwa bencana iklim meningkatkan stres dan kerawanan pangan dalam keluarga, yang pada gilirannya dapat memicu kekerasan.

Selain itu, bencana mengurangi akses terhadap layanan sosial yang biasanya membantu menangani masalah kekerasan dalam rumah tangga, karena perhatian polisi dan masyarakat sipil lebih terfokus pada penanganan bencana.

Penelitian ini juga mencatat bahwa tingkat kekerasan terhadap perempuan cenderung lebih tinggi di negara dengan prevalensi kekerasan yang tinggi, sedangkan negara yang lebih kaya menunjukkan tingkat kekerasan yang lebih rendah.(Red/kompas)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *