Semarang– Permadani atau Persaudaraan Masyarakat Budaya Nasional Indonesia Cabang Kecamatan Mijen, Kota Semarang mengadakan Tour Wisata Budaya.
Tour Wisata Budaya itu di Desa Wisata Tembi dan Keraton Yogyakarta, Minggu (26/2/23).
Wisata budaya yang dikemas dengan tema Dolan Bareng Permadani Cabang Mijen Kota Semarang diikuti 4 bregada (angkatan) Permadani Cabang Mijen.
Ketua Permadani Cabang Kecamatan Mijen, Edi Purnomo mengatakan, tour wisata budaya dilaksanakan bertujuan mempererat tali persaudaraan.
Adapun persaudaraan antara para siswa pawiyatan panatacara dan pamedhar sabda yang telah lulus dan menjadi keluarga Permadani agar terjalin komunikasi yang lebih baik diantara bregada (angkatan).
“Setelah selesai mengikuti pawiyatan (kursus) selama enam bulan, para siswa ini telah resmi menjadi keluarga besar Permadani,” ucap Edi.
Edi melanjutkan, untuk itulah kegiatan tour budaya itu sebagai wahana saling mengenal antara bregada 1 sampai bregada 4 sehingga bisa saling kenal di semua bregada (angkatan).
“Selain sebagai wahana menjalin silaturahmi, tour budaya yang dilaksanakan juga merupakan wahana edukasi menambah wawasan khasanah budaya yang ada di Keraton Yogyakarta,” ujar Edi.
Hal tersebut sesuai dengan tujuan didirikannya Permadani yaitu melestarikan kebudayaan peninggalan leluhur.
Dimana yang berada di daerah-daerah di seluruh Indonesia dengan cara menggali, mengembangkan dan melestarikan sebagai jati diri bangsa Indonesia.
Meningkatkan harkat dan martabat manusia Indonesia, memperkuat jati diri dan kepribadian bangsa, serta ketahanan kebudayaan nasional Indonesia.
Serta yang ketiga adalah turut serta mencerdaskan bangsa, membangun masyarakat yang berdayaguna sanggup dan mampu membangun bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Dalam tour budaya tersebut, Permadani Cabang Mijen mengunjungi Tamansari Yogyakarta dengan menelusuri situs peninggalan sejarah taman kerajaan atau pesanggrahan Sultan Yogya dan keluarga raja.
Wisata edukasi dilanjutkan mengunjungi Desa Wisata Tembi dengan melakukan beberapa kegiatan antara lain gatering, flashmob, games.
Selain itu juga menggelar pertunjukkan Wayang Degleng yang diawali dengan adegan limbukan (dagelan) Panakawan dan diakhiri dengan tari Bambangan Cakil.
Tari Bambangan Cakil adalah tarian tradisional yang dalam dunia pewayangan disebut Perang Kembang yang mengisahkan peperangan antara ksatria dengan raksasa.
Tarian yang menggambarkan seorang ksatria lemah lembut dan rupawan digambarkan sebagai Arjuna tokoh kesatria Pandawa berperang melawan raksasa atau cakil yang mempunyai watak kasar, gesit dan beringas.
Tarian ini mengandung filosofis melalui lakon yang dibawakan dalam tarian Bambangan Cakil yang bermakna kebaikan akan menang melawan kejahatan.
Ditengah acara pentas tari Bambangan Cakil sempat terjadi kericuhan yang membuat kaget para peserta.
Bahkan penasehat Permadani Cabang Mijen, Drs. Bambang Supriyono yang juga pengasuh Karawitan Permadani Laras dibuat tegang.
Karna menyaksikan keributan yang terjadi antara Novita pemeran Gareng tokoh Panakawan dengan ketua panitia, Edi Suprapto yang juga suami Novita.
Kejadian yang membuat tegang para peserta akhirnya mencair mengundang gelaktawa.
Ternyata hal tersebut hanyalah sebuah dariama rekayasa atau prank belaka dalam rangka merayakan ulang tahun salah satu peserta tour budaya.
Tour budaya Permadani Cabang Kecamatan Mijen diapresiasi Ketua DPD Permadani Kota Semarang, Raden Bekel Sepuh Subardo.
Melalui pesannya antara lain, memberikan apresiasi kepada Permadani Cabang Mijen dengan melaksanakan kegiatan-kegiatan positif.
Dimana dalam rangka nduduk, ndudah dan ngrembakake (menggali, membuka dan mengembangkan) budaya nasional Indonesia agar tetap lestari dan tidak punah begitu saja. (nt/hdi).











