Fintech Indonesia Tumbuh Pesat, QRIS Cross-Border Jadi Andalan

2 menit baca

Jakarta- Industri fintech Indonesia terus menunjukkan pertumbuhan positif berkat dukungan regulasi yang kuat dari pemerintah, Bank Indonesia (BI), dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Penerapan Undang-Undang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (UU P2SK) memberikan landasan kokoh bagi sektor ini, mendorong profesionalisme dan profitabilitas di industri fintech.

Kolaborasi antara fintech, lembaga keuangan, dan pemerintah diharapkan mampu meningkatkan inklusi dan literasi keuangan, menciptakan ekosistem yang inklusif dan berkelanjutan.

Acara Indonesia Fintech Summit & Expo (IFSE) 2024, yang berlangsung pada 12-13 November di The Kasablanka Hall, menyoroti momentum tersebut.

Mengusung tema “Technology Convergence: Shaping the Future of Finance and Beyond,” acara ini diselenggarakan oleh Asosiasi Fintech Indonesia (AFTECH) dengan dukungan dari OJK.

Lalu ada Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI), dan Asosiasi Fintech Syariah Indonesia (AFSI), serta BI.

Ajang ini mempertemukan berbagai pemangku kepentingan untuk membahas tren, tantangan, dan peluang dalam mempercepat pertumbuhan ekonomi digital di Indonesia.

Salah satu topik utama adalah “QRIS: Indonesia’s Passport to Global Payments,” yang menggarisbawahi pentingnya infrastruktur pembayaran digital dalam mendukung transaksi lintas negara.

Pada sesi tersebut, Direktur Komersial Jalin, Eko Dedi Rukminto, menjelaskan bahwa QRIS Cross-border menjadi jembatan strategis bagi ekosistem pembayaran Indonesia untuk terhubung ke jaringan global, khususnya di ASEAN.

Menurutnya, kolaborasi antara pemerintah, regulator, dan industri sangat penting untuk menciptakan sistem pembayaran yang inklusif dan efisien guna mendukung pertumbuhan ekonomi digital regional.

QRIS Cross-border dikembangkan sebagai upaya untuk standarisasi sistem pembayaran regional yang aman dan efisien, mendukung akseptasi pembayaran nontunai nasional dan internasional.

Layanan ini mempermudah wisatawan asing dalam bertransaksi di berbagai sektor, mulai dari bandara, transportasi, restoran, hingga toko suvenir, sehingga memberikan kenyamanan dan keamanan dalam berbelanja di Indonesia.

Jalin, sebagai pelaku industri switching nasional, telah aktif mengembangkan QRIS Cross-border di Thailand, Malaysia, dan Singapura, dengan rencana ekspansi ke negara-negara lainnya di masa depan.

Eko menyampaikan harapannya agar QRIS Cross-border terus berkembang melalui kolaborasi semua pihak terkait.

QRIS Cross-border memiliki potensi besar untuk mendukung pertumbuhan ekonomi digital dan memperkuat posisi Indonesia sebagai contoh standar pembayaran global.(Red/rls)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *