Festival Budaya Tabut Bengkulu

4 menit baca

Satujuang.com – Bengkulu salah satu provinsi di Indonesia yang mempunyai ragam cerita dan kisah, salah satunya kegiatan perayaan Tabut, dilaksanakan setiap tanggal 1 sampai dengan 10 muharram dalam kalender Islam.

Tradisi tabut, merupakan sebuah perwujudan dalam bentuk ritual sebagai simbolis untuk menceritakan tentang wafatnya Imam Husen, dikisakan Imam Husen wafat saat melakukan perang untuk melawan Yazit bin Umayah di Padang karbela.

Ritual tabut ini, menurut sejarah dibawa dan dikenalkan oleh Syeh Burhanudin, yang pada awalnya kegiatan ini dimaksudkan sebagai salah satu bentuk syiar agama Islam pada abad ke 13 dan 14, untuk menyebarkan agama Islam di Bengkulu, dengan menceritakan kisah tentang perang Karbela pada tahun 763 M.

Tabut telah dirayakan secara rutin di Bengkulu sejak abad ke-14. Tahun 1990, ritual tabut ditingkatkan statusnya menjadi salah satu festival wisata di Provinsi Bengkulu dengan nama Festival Tabut.

Perayaan yang semula hanya berisikan upacara-upacara ritual, diperkaya dengan berbagai atraksi tambahan, seperti lomba DOL, Lomba Tari, Lomba Ikan-ikan, Lomba Telong-telong, Lomba Barong Landong, mirip ondel-ondel betawi, dan lainnya.

Rangkaian acara Festival Tabut yaitu :

Upacara pengambilan tanah

Upacara pengambilan tanah dilakukan pada malam hari sebelum tanggal 1 Muharam pada pukul 20.00 WIB atau setelah sholat isya, upacara pengambilan tanah dilakukan di dua tempat yaitu di Pantai Nala dan Tapak Paderi.

Upacara/budaya ini adalah peringatan atau mengenang kembali manusia pada awalnya diciptakan dari tanah nantinya akan kembali menjadi tanah.

Upacara/budaya ini lengkap dengan sesajen gula merah, bubur merah, sirih rokok tujuh batang, tujuh subang, air kopi pahit, air serobat atau air jahe, air susu sapi murni, air cendana dan air selasi.

Setelah itu pengambilan tanah dua kepal, sekepal diletakkan di gerga diibaratkan benteng dan sekepal lainnya dibawa pulang untuk diletakkan di atas tabut yang akan dibuat.

Upacara duduk penja

Upacara skral duduk penja dilakukan selama dua hari yaitu pada tanggal 4 dan 5 Muharam pada pukul 16.00 WIB.

Penja ialah pending jari-jari dengan bentuk jari-jari tangan terbuat dari tembaga serta disimpan di atas rumah sekurang-kurangnya selama satu tahun.

Didahului dengan berdoa penja diturunkan untuk dicuci dilengkapi sesajen berupa emping, air serobat atau air jahe, susu murni, air kopi pahit, nasi kebuli, pisang emas, dan tebu.

Setelah di cuci keluarga pembuat tabut langsung mengantarkan penja yang dibungkus kegerganya dengan diiringi bunyi DOL dan tasa untuk disimpan kembali selama upacara perayaan tabut.

Upacara menjara

Upacara menjara dilaksanakan pada malam hari tanggal 5 dan 6 Muharam mulai pukul 19.30 WIB, menjara berarti melakukan perjalanan panjang dimalam hari.

Upacara ini dimaksud untuk melakukan silahturahmi atau konsolidasi, pada malam pertama tanggal 5 Muharam kelompok bangsal mengunjungi kelompok Imam dan pada malam kedua tanggal 6 Muharam kelompok Imam mengunjungi kelompok bangsal dengan perlengkapan DOL dan tasa.

Perlengkapan musik DOL dan tasa dalam perjalanannya akan melantunkan lagu semi sauri disaat berjalan dan lagu-lagu sauri, melalu dan tamatam pada tempat-tempat berhenti

Malam arak jari-jari dan malam arak seroban

Upacara arak jari-jari dilakukan pada tangal 7 Muharam pukul 19.30 WIB, malam arak jari-jari dilaksanakan dengan menempatkan penja yang sudah didudukan di atas tabut joki, kemudian diarak untuk berkumpul ditanah lapang.

Sedangkan persiapan arak seroban diselenggarakan pada tanggal 8 Muharam pukul 16.00WIB atau setelah sholat asar yakni mempersiapkan seroban untuk diarak bersama-sama penja atau jari-jari pada malam harinya.

Upacara ini diibaratkan sebagai pemberitahuan kepada masyarakat bahwa jari-jari tangan dan sorban Amir Husen telah ditemukan di padang karbala .

Hari Gam

Hari Gam ini dimulai pada pukul 06.00 WIB tanggal 9 Muharam, hari Gam berarti tidak boleh ada bunyi-bunyian sama sekali sampai tabut naik pangkek.

Dalam pelaksanaan pembuatan tabut ini prosesnya yaitu memakan waktu sampai satu bulan selepas dari hari raya kurban langsung pelaksanaan pembuatan tiang empat awal dari kegiatan itu.

Dalam kegiatan ini setiap kelompok tabut di rumahnya masing-masing itu melaksanakan pembuatan tabut.

Kemudian tabut ini tidak dibuat dalam bentuk tingkatnya itu ganjil tidak genap yaitu 1, 3, 7, 9, dengan puncak satu itu 5, 9, 13, dan 17 karena tidak ada puncak tabut itu yang genap dan semua puncak tabut yang ada itu ganjil.

Tabut naik pangkek

Pada pukul 14.00 WIB sesudah sholat zuhur tanggal 9 Muharam dilakukan acara tabut naik pangkek.

Tabut naik pangkek adalah kegiatan menyambungkan bangunan puncak tabut dengan bagian bangunan tabut gedang ditempat pembuatannya.

Malam arak Gedang

Pada tanggal 9 Muharam pukul 16.00 WIB tabut dibawa ke gerga untuk soja dan penja dinaikkan di atas tabut sebelum diarak menuju ke tanah lapang untuk bersanding.

Pada pukul 19.00 WIB malam harinya tabut sudah bersanding ditanah lapang, prosesi ini disebut malam arak Gedang.

Arak-arakan tabut tebuang

Pagi hari pukul 080. WIB tanggal 10 Muharam tabut kembali diarak untuk bersanding ditanah lapang.

Setelah itu tabut diarak menuju karabela sebutan masyarakat bengkulu untuk karbala, sebelum diarak seluruh tabut menyembah terlebih dahulu kepada tabut imam dan tabut bangsal.

Juru kunci menyambut arak-arakan di pintu gerbang karabela, disitu dilakukan upacara penyerahan tabut kepada leluruh dimakam syah bedan Abdullah ayah handa Syeh Burhanudin.

(Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *