Blitar, Satujuang.com – Pemerintah Desa (Pemdes) Wonodadi, Kecamatan Wonodadi, Kabupaten Blitar, menyalurkan bantuan pakan ikan kepada 63 petani ikan di wilayahnya di Balai Desa Wonodadi, Rabu (15/7/26).
Langkah nyata ini diambil sebagai upaya memperkuat ketahanan pangan desa sekaligus mendongkrak produktivitas budidaya perikanan darat agar semakin produktif.
Kepala Desa Wonodadi, Mahmudi, menjelaskan bahwa penyaluran pakan ini merupakan bagian dari program ketahanan pangan yang menjadi prioritas penggunaan Dana Desa (DD) Tahun Anggaran 2026.
Sesuai regulasi, Pemdes Wonodadi mengalokasikan 20 persen dari total pagu Dana Desa sebesar Rp370 juta untuk ketahanan pangan yang dipecah ke dalam tiga sektor utama, yakni bidang pertanian, peternakan, dan perikanan.
“Berdasarkan hasil musyawarah desa bersama lembaga dan tokoh masyarakat, untuk sektor perikanan hari ini kami wujudkan dalam bentuk bantuan pakan berkualitas bagi para petani,” kata Mahmudi kepada reporter Satujuang.
Tujuan utama dari penyaluran bantuan pakan ini adalah untuk meringankan beban operasional para petani ikan di tengah tingginya harga pakan pabrikan.
Dengan pakan berkualitas yang disuplai oleh desa, hasil panen diharapkan dapat melimpah dan memuaskan.
Komoditas perikanan di Desa Wonodadi saat ini didominasi oleh budidaya ikan gurami dan patin, sedangkan untuk komoditas ikan koi terpantau sudah mulai tidak aktif berproduksi lagi.
Untuk memaksimalkan potensi ini, Pemdes juga terus berusaha membentuk dan melegalkan kelompok-kelompok tani baru agar seluruh petani ikan di Wonodadi dapat terakomodasi dengan baik saat ada program dari pemerintah. Saat ini baru terdata resmi sekitar 3 hingga 4 kelompok perikanan.
Pihak desa juga berkomitmen memberikan pembinaan berkelanjutan, seperti yang telah dilakukan pada tahun 2025 lalu berupa pelatihan intensif budidaya ikan gurami agar peternak memiliki bekal keilmuan yang mumpuni dalam pengelolaan budidaya.
Di sisi lain, Mahmudi mengungkapkan keprihatinannya terhadap kebijakan efisiensi anggaran yang berimbas pada terpangkasnya porsi anggaran pembangunan fisik desa pada tahun 2026 ini.
Sebelumnya, hampir 50 persen Dana Desa Wonodadi dialokasikan untuk pembangunan infrastruktur.
Dengan adanya pengurangan tersebut, pembangunan fisik kini terpaksa berjalan lambat karena hanya mengandalkan Pendapatan Asli Desa (PADes) yang nilainya terbatas.
Kendati demikian, Pemdes Wonodadi berkomitmen untuk tidak mengorbankan sektor pemberdayaan ekonomi masyarakat yang langsung menyentuh hajat hidup warga desa.
“Pemberdayaan ekonomi harus tetap berjalan. Walaupun pembangunan infrastruktur tahun 2026 ini tidak bisa bergerak maksimal, program peningkatan ekonomi seperti ketahanan pangan, pendidikan, dan kesehatan tetap kami tempatkan di skala prioritas utama,” pungkas Mahmudi. (Herlina)











