Bengkulu, Satujuang.com – Bursa pemilihan Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Bengkulu resmi memanas.
Tiga figur terbaik pers di Bengkulu, yakni Marsal Abadi, Doni Aftarizal, dan Iyud Dwi Mursito, dipastikan bakal bertarung di Konferprov PWI Bengkulu 2026 setelah resmi mengembalikan berkas pendaftaran satu paket pasangan ke sekretariat panitia.
Hingga batas akhir penutupan pendaftaran pada Rabu (8/7/26) pukul 16.00 WIB, hanya tiga pendekar pers ini yang mengembalikan berkas dari total 10 orang yang sempat mengambil formulir.
Konferensi besar ini dijadwalkan akan digelar pada Sabtu, 18 Juli 2026 mendatang.
Ketua Panitia Pemilihan PWI Provinsi Bengkulu, Dedi Hardiansyah Putra, menjelaskan bahwa sistem pemilihan tahun ini menerapkan regulasi satu paket pasangan antara bakal calon Ketua PWI dan bakal calon Ketua Dewan Kehormatan (DK).
Seluruh berkas yang masuk akan dikirim ke PWI Pusat untuk proses verifikasi administrasi final.
Jika ditemukan kekurangan dokumen, kandidat diberikan waktu dua hari untuk melengkapinya sebelum ditetapkan sebagai calon tetap.
Berikut adalah profil dan peta kekuatan dari tiga poros pasangan calon yang akan bertarung:
Poros Petahana: Marsal Abadi – Sukatno (Jawa Pos Group)
Pasangan pertama ditempati oleh petahana Marsal Abadi yang berpasangan dengan tokoh pers senior, Sukatno.
Duet ini maju bernaung dibawah bendera Jawa Pos Group dan mengusung misi keberlanjutan program kerja.
Sukatno sendiri bukanlah nama baru di panggung publik Bengkulu. Ia sempat terjun ke dunia politik dengan maju sebagai calon Wakil Wali Kota Bengkulu pada Pilkada 2024 lalu, meskipun belum berhasil keluar sebagai pemenang.
Sebagai inkumben, duet Marsal–Sukatno memiliki modal rekam jejak prestasi yang cukup mentereng sepanjang periode kepengurusan 2021–2026, terutama di bidang olahraga wartawan.
PWI Bengkulu mencetak sejarah baru dengan menyabet medali perak pada Pekan Olahraga Wartawan Nasional (Porwanas) 2022 di Malang.
Prestasi ini berhasil ditingkatkan pada Porwanas 2024 di Banjarmasin dengan raihan satu medali emas dan tiga medali perunggu.
Poros Gerakan Moral: Doni Aftarizal – Benny Bernardie (Cik Ben)
Poros kedua ditempati oleh Doni Aftarizal, wartawan senior Radar Utara sekaligus Ketua Society of Indonesian Environmental Journalists (SIEJ) Bengkulu, yang maju berpasangan dengan Benny Bernardie (Cik Ben) sebagai calon Ketua DK.
Langkah Doni maju ke arena kontestasi memicu dinamika menarik. Pasalnya, Radar Utara merupakan bagian dari jaringan raksasa Rakyat Bengkulu Media Grup (RBMG) yang juga berada di bawah naungan Jawa Pos Group.
Menyikapi hal tersebut, Doni secara terbuka menegaskan independensi sikapnya.
Ia memisahkan secara tegas antara hak personal organisasi dengan kebijakan korporasi tempatnya bernaung.
“Pencalonan ini merupakan keputusan pribadi saya sebagai anggota PWI yang memiliki hak untuk dipilih dan memilih. Saya maju bukan untuk mewakili kepentingan kelompok media tertentu, melainkan membawa gagasan murni dari arus bawah,” tegas Doni.
Doni membawa misi besar untuk merawat marwah PWI Bengkulu agar tumbuh menjadi wadah yang lebih profesional, independen, dan berani bersuara demi memperjuangkan kesejahteraan anggota.
Ia juga mendesak agar iklim demokrasi di tubuh PWI berjalan bersih tanpa adanya intervensi dari pihak luar.
Poros Restorasi: Iyud Dwi Mursito – Dian Marfani
Poros ketiga diisi oleh wartawan senior Iyud Dwi Mursito yang berpasangan dengan Dian Marfani.
Pasangan ini muncul sebagai representasi suara perubahan dari para jurnalis yang menginginkan penyegaran total.
Iyud mengusung visi utama untuk mengembalikan PWI Bengkulu sebagai “Rumah Bersama”.
Ia berkomitmen mendobrak sekat-sekat pembatas birokrasi yang selama ini dianggap membuat organisasi terasa berjarak dan hanya dimiliki oleh segelintir elite media tertentu.
“Target saya adalah membuat setiap anggota, tanpa memandang latar belakang medianya, merasa bangga mengenakan atribut PWI dan benar-benar merasa memiliki organisasi ini. PWI harus inklusif dan merajut kembali rasa kebersamaan,” ungkap Iyud optimis.
Untuk mewujudkannya, Iyud berjanji akan menghidupkan kembali “nyawa” organisasi melalui investasi Sumber Daya Manusia (SDM).
Fokus utamanya ke depan adalah menggenjot program peningkatan kompetensi berkala dan pendampingan profesi yang konkret, bukan sekadar terjebak pada acara-acara seremonial belaka. (Red)











