Satujuang- Ada yang nyaris dilupakan dari sejarah Bengkulu modern. Sebuah gagasan besar, monumental, lahir di tengah semangat reformasi birokrasi dan kebangkitan pariwisata nasional era 1990-an.
Gagasan itu adalah “Negeri 1.000 Tabut”, sebuah identitas kultural yang sempat digagas sebagai wajah Bengkulu di mata dunia.
Jejaknya bermula pada 24 Oktober 1994. Hari itu, Wakil Presiden RI, Jenderal (Purn) Try Sutrisno, datang ke Bengkulu dalam kunjungan kerja.
Di Gedung DPRD Provinsi Bengkulu, Wapres Try menyampaikan dukungan pemerintah pusat untuk menjadikan Bengkulu sebagai destinasi wisata unggulan nasional.
Di tengah pidatonya, ia menyampaikan kalimat yang kelak menjadi tonggak sejarah: “Lihat Myanmar, mereka bisa dikenal dunia dengan nama Negeri 1.000 Pagoda. Bengkulu juga punya kekuatan budaya: Tabut. Mengapa tidak jadikan Bengkulu ini sebagai Negeri 1.000 Tabut?”
Ucapan itu bukan sekadar basa-basi kunjungan kerja. Hanya beberapa bulan sebelumnya, Drs H Adjis Achmad dilantik sebagai Gubernur Bengkulu menggantikan Razie Jachya pada 16 Juli 1994.
Dan seperti tersulut oleh semangat nasionalisme budaya, Gubernur Adjis segera mengambil langkah konkret.
Miniatur-miniatur Tabut mulai bermunculan. Di gerbang rumah dinas gubernur, di simpang-simpang jalan utama, di pelataran kantor-kantor pemerintahan hinga ke sekolah-sekolah.
Setiap ornamen kecil itu menyimpan satu semangat besar yakni memperkenalkan Tabut bukan sekadar ritual Muharam, melainkan identitas budaya Bengkulu yang sah dan membanggakan.
“Waktu itu semangatnya luar biasa. Bengkulu ingin diangkat secara nasional dan internasional lewat tradisi Tabut,” kenang Achmad Syafril, Ketua Keluarga Kerukunan Tabut (KKT) Bencoolen, dalam wawancara khusus.
Tabut Sebagai Branding Daerah
Tabut bukan sekadar upacara keagamaan atau pawai budaya. Ia adalah rangkaian panjang nilai, sejarah, dan spiritualitas.
Di Bengkulu, Tabut telah hidup sejak abad ke-18 bahkan jauh sebelumnya, beberapa literatur bahkan menyebut Tabut di Bengkulu mulai dikenalkan sejak tahun 1336, jauh sebelum Inggris tiba di Bengkulu.
Tabut dibawa oleh para Sayyid keturunan Arab dari wilayah Irak melalui jalur pelayaran kolonial. Tradisi ini lalu dirawat dan dilestarikan oleh komunitas Tabut yang tergabung dalam KKT.
Simbol-simbol Tabut bangunan tinggi berornamen khas dengan menjadi bagian dari wajah kota. Sebuah langkah branding kultural yang kala itu visioner, menyatukan narasi sejarah, religi, dan wisata dalam satu ikon visual.
Tapi mimpi itu rupanya tak panjang umur.
Pelan Tapi Pasti: Gagasan Mulia Itu Memudar
Seiring pergantian kekuasaan, semangat Negeri 1.000 Tabut mulai pudar. Semangat yang terkandung dalam miniatur Tabut mulai memudar, warnanya sudah tidak lagi mengikuti budaya itu sendiri, mengikuti selera siapa yang menjadi penguasa.
Lebih ironis, penyelenggaraan Festival Tabut di tahun-tahun setelahnya justru digeser dari akar tradisinya. Pemerintah mulai mengambil alih penyelenggaraan, namun tanpa melibatkan keluarga pewaris Tabut secara substansial.
Narasi besar yang dulu dibangun Try Sutrisno dan Gubernur Adjis terkubur dalam kebijakan pragmatis. Bengkulu tidak menjadi Negeri 1.000 Tabut.
Bahkan, kini nyaris tak ada lagi yang mengingat bahwa mimpi itu pernah lahir dan dicatat sejarah.
Mengapa Kita Harus Ingat Kembali?
Tabut bukan sekadar upacara. Ia adalah memori kolektif. Dan seperti Myanmar membangun citra lewat pagoda, seperti Thailand menjual budaya lewat kuil dan tariannya, Bengkulu sebenarnya punya peluang serupa, menjadikan Tabut sebagai identitas, bukan hanya tontonan tahunan.
Kini saatnya kembali menggali jejak itu. Menelusuri ulang arah yang pernah hendak dituju, menjadikan Bengkulu dikenal sebagai “Negeri 1.000 Tabut”, bukan hanya karena jumlah miniaturnya, tapi karena semangat pelestarian budayanya yang hidup, bermartabat, dan diakui. (Red)












Semangat juang…
Negeri 1000 pagoda itu Thailand bukan vietnam