Blitar, Satujuang.com – Komisi II DPRD Kota Blitar melayangkan kritik keras terhadap kinerja konsultan pengawas proyek revitalisasi kawasan wisata Water Park Sumber Udel dan fasilitas publik di Kota Blitar.
Dalam Rapat Kerja (Raker) evaluasi bersama Disperindag dan Disbudpar Kota Blitar pada Senin (14/9/26), dewan menilai kehadiran konsultan pengawas di lapangan belum maksimal melakukan pendampingan harian.
Ketua Komisi II DPRD Kota Blitar, Yohan Tri Waluyo, menegaskan bahwa konsultan yang dibayar melalui kontrak seharusnya memantau setiap tahapan pekerjaan secara melekat di lokasi.
“Secara logika, kalau memang dikontrak sebagai konsultan pengawas, setiap hari ada kegiatan harusnya juga harus ada yang mendampingi di situ,” ujar Yohan.
Selain masalah pengawasan, Komisi II juga menyoroti keterlambatan pemasangan papan informasi proyek di lokasi pembangunan Water Park Sumber Udel sebagai bentuk pengabaian transparansi publik.
Dewan mendesak pihak kontraktor pelaksana untuk segera memasang papan nama proyek tersebut agar masyarakat mengetahui rincian nilai anggaran serta sumber dana yang digunakan.
“Papan informasi proyek tidak terlihat di depan, tadi kita sampaikan lambat-lambatnya besok harus dipasang. Kita ingin semua transparan agar masyarakat tahu anggaran pembangunan ini,” tegas Yohan.
Kekhawatiran dewan kian beralasan mengingat progres fisik proyek Water Park Sumber Udel hingga pertengahan September 2026 baru menyentuh angka 6,5 persen.
Menjawab cecaran dewan, perwakilan kontraktor pelaksana berjanji akan memasang papan proyek paling lambat pada Selasa usai berdalih papan tersebut sebelumnya disimpan di dalam area area konstruksi.
Komisi II memastikan bakal memperketat pengawasan lapangan secara berkala saat progres fisik mencapai milestone 30 persen, 50 persen, hingga menjelang akhir masa kontrak.
Ketatnya pengawasan ini dinilai krusial mengingat Pemkot Blitar tengah menghadapi tekanan efisiensi anggaran dari pemerintah pusat dengan pemangkasan mencapai kurang lebih Rp140 miliar.
“Pemerintah daerah harus pintar-pintar mengatur anggaran yang sedikit ini. Meskipun ada kekeliruan laporan, kedepan kita monitor langsung agar anggaran benar-benar berjalan sesuai perencanaan,” pungkasnya. (Herlina)












