Musda XI Jadi Pertaruhan Besar Golkar Bengkulu, Melemah atau Semakin Kuat

Perkiraan Waktu Baca: 3 menit

Satujuang, Bengkulu– Musyawarah Daerah (Musda) XI Partai Golkar Bengkulu yang dijadwalkan berlangsung pada Minggu, 5 November 2025 besok, menjadi ajang pertaruhan besar bagi partai berlambang pohon beringin.

Hasil Musda kali ini akan menentukan apakah Golkar Bengkulu akan semakin kuat atau justru melemah menjelang Pemilu 2029.

Perebutan kursi Ketua DPD I dipastikan berlangsung ketat. Lima nama kader terbaik sudah muncul ke permukaan, masing-masing membawa pengaruh politik dan basis massa berbeda.

Dari kalangan eksekutif ada Bupati Kaur, Gusril Fauzi, yang disebut siap maju. Dari legislatif, ada Ketua DPRD Provinsi Bengkulu, Sumardi, dan Anggota DPR RI, Derta Rohidin.

Dua nama lain, Samsu Rahman dan Samsu Amanah, juga masuk dalam bursa. Samsu Amanah bahkan kini menjabat Sekretaris DPD Golkar Bengkulu, posisi strategis yang membuat peluangnya cukup terbuka.

“Pertarungan kali ini tidak akan mudah. Hampir semua kandidat memiliki jabatan politik dan basis dukungan yang kuat,” kata pengamat politik Universitas Bengkulu, Prof Dr Panji Suminar MA.

Menurut Panji, tradisi politik di tubuh Golkar selama ini cenderung menempatkan figur yang memiliki jabatan teritorial—seperti kepala daerah atau pimpinan legislatif—sebagai Ketua DPD.

Sebab mereka dianggap mampu memperkuat posisi partai di tingkat akar rumput.

“Biasanya yang terpilih adalah tokoh dengan posisi eksekutif atau legislatif yang kuat. Itu karena kekuatan Golkar ada pada struktur dan akses politik di daerah,” jelasnya.

Namun, Panji juga mengingatkan bahwa dinamika politik kali ini berbeda dari sebelumnya.

Figur non-teritorial pun berpeluang maju, asalkan mampu menunjukkan kapasitas, soliditas jaringan, serta dukungan logistik yang memadai.

Meski demikian, ia menegaskan bahwa jika Golkar ingin tetap menjadi kekuatan besar di Bengkulu, maka jabatan teritorial menjadi syarat mutlak.

“Kalau Golkar ingin menang di 2029, partai ini butuh figur dengan jabatan teritorial. Sebab kekuatan politik tidak hanya soal uang, tapi juga pengaruh nyata di daerah,” tegas Panji.

Dari nama-nama yang beredar, Gusril Fauzi dinilai sebagai “kuda hitam”. Meski belum banyak bicara ke publik, jaringan politiknya sebagai bupati aktif dianggap tidak bisa diremehkan.

“Gusril punya modal elektoral dan jaringan birokrasi yang luas. Tapi ini politik, semuanya bisa berubah menjelang Musda,” tambah Panji.

Situasi Golkar Bengkulu memang tengah menghadapi tantangan berat. Di sisi lain, Partai Amanat Nasional (PAN) yang dikomandoi Gubernur Helmi Hasan telah berhasil menguasai hampir semua kepala daerah di Provinsi Bengkulu.

Golkar hanya menyisakan dua bupati yang masih loyal. Kondisi ini jelas mengubah peta kekuatan politik lokal.

“Golkar sedang menghadapi ancaman dominasi PAN. Kalau ketuanya nanti bukan figur dengan kekuatan teritorial, partai bisa kehilangan pengaruh di daerah. Ini bukan soal jabatan semata, tapi soal daya tahan politik,” ujar Panji.

Musda XI ini pun menjadi momen penentu arah partai beringin di Bengkulu. Jika salah memilih nakhoda, Golkar bisa kehilangan momentum politik dan basis elektoral menjelang Pemilu 2029.

Namun jika berhasil memilih figur yang kuat, solid, dan berpengaruh, Musda kali ini justru bisa menjadi titik kebangkitan baru.

“Musda ini adalah pertaruhan besar. Golkar punya sejarah panjang di Bengkulu, tapi sejarah itu tidak akan berarti tanpa kepemimpinan yang kuat. Pilihannya cuma dua—melemah atau semakin kuat,” pungkas Panji. (Red/Wij)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *