KISAH RADEN BURNIAT

Siluet Pencak Silat [moa]

Satujuang.com – Di dusun Tanjung Terdana berdiam dua orang suami istri. Mereka itu sudah lama berumah tangga, namun Tuhan belum memberinya keturunan. Meskipun demikian mereka tetap hidup rukun. Suami istri itu tidak pernah berputus asa untuk mendapatkan keturunan. Sudah banyak dukun-dukun yang didatanginya untuk berobat dan berurut.

Bukan hanya pergi ke dukun, akan tetapi semua cara yang lazim pada waktu itu telah dicobanya, namun belum juga ada tanda-tanda akan dikaruniai anak. Setelah kehabisan akal, maka ia pun pergi ke Gunung Bungkuk untuk bertarak atau bersemedi sambil memohon kepada Yang Maha Kuasa.

Setelah sekian lama sang suami bersemedi, pada suatu malam ia mendengar suara menggema, yang tidak diketahuinya dari mana asal suara itu. Namun dapatlah ia memastikan bahwa suara itu merupakan Ilham yang datang kepadanya berkat kesungguhannya dalam berusaha dan memohon kepada Yang Maha Kuasa.

Suara yang didengarnya itu menyatakan bahwa tidak lama lagi ia akan dikaruniai anak, namun diingatkannya pula bahwa kelahiran anaknya itu akan menimbulkan keributan-keributan dan kekacauan. Walau apa pun yang akan teijadi akibat kelahiran anaknya nanti, sang suami tetap akan menerimanya.

Ia akan tetap tabah dan sabar dalam menghadapi segala sesuatunya akibat kelahiran anaknya nanti. Keesokan harinya, setelah mendengar suara, ia pun bergegas pulang menemui istrinya yang tercinta. ‘Dengan perasaan gembira sang suami mengatakan bahwa tidak lama lagi kita akan dikaruniai seorang anak. Mendengar kata-kata suaminya itu istrinya pun terkejut, dan bertanyalah ia kepada suaminya, “Dari manakah kakanda mengetahui bahwa kita akan dikaruniai seorang anak?”

Baca Juga :  Menilik Kasus Korupsi Dana Bantuan Sosial Covid-19 dan Kaitannya dengan Etika Normatif

Diceritakannya semua yang dialami sewaktu ia bersemedi. Istrinya pun mendengarkannya dengan sungguh-sungguh dan percaya bahwa akan mendapatkan seorang anak. Sudah barang tentu ia merasa senang dan bergembira. Tidak berapa lama sesudah itu terbuktilah apa yang dikatakan suara di Gunung Bungkuk, waktu ia bersemedi, istrinya mengandung. Setelah sembilan bulan ia mengandung.

lahirlah anak yang dinantikannya itu. Anak itu laki-laki, gagah, wajahnya tampan. Tak ada seorang anak pun di dusun itu yang menandingi kegagahan dan ketampanan wajahnya. Siapa pun yang melihatnya pasti akan merasa senang, apalagi orang tuanya yang sudah lama merindukan kehadirannya. Anak itu diberi nama Raden Burniat.

Apa yang dikatakan suara di Gunung Bungkuk, bahwa kelahiran anak itu menimbulkan keributan dan kekacauan, pun benar-benar teijadi. Tiga hari setelah Raden Burniat lahir ia menghilang tak seorangpun mengetahui di mana ia berada. Penduduk di desa itu pun ributlah, mereka menyebar ke seluruh pelosok di desa itu untuk mencarinya. Ditanyakan kepada dukun-dukun namun tidak juga ditemukan.

Ibunya merasa sangat sedih bahkan meratap menangis tidak henti-hentinya. Dua hari sesudah Raden Burniat menghilang, sore hari menjelang maghrib, pada saat sang suami masuk ke dalam kamarnya untuk menunaikan sholat maghrib, dilihatnya anaknya sedang tidur dengan pulasnya. Ia mencium anak itu, kemudian memanggil istrinya. Istrinya pun datang berlari mendapatkan anaknya.

Baca Juga :  Dalam Al-Quran Ada Empat Tipe Kedudukan Anak Dalam Hubungannya Dengan Orang Tuanya

Diciumnya anak itu sepuas-puasnya untuk melepaskan kerinduannya. Ketika Raden Burniat berumur tujuh hari anak itu menghilang lagi, seperti waktu ia berumur tiga hari. Penduduk di desa itu pun ribut mencarinya, namun usaha mereka tidak berhasil. Raden Burniat ditemukan ayahnya pada waktu dan tempat yang sama seperti pada peristiwa yang pertama.

Sebulan kemudian Raden Burniat menghilang lagi, namun penduduk tidak lagi meributkannya. Ia ditemukan ayahnya pada waktu dan tempat seperti pada peristiwa-peristiwa terdahulu. Kejadian seperti itu terus berulang sampai Raden Burniat berumur 15 tahun. Pada waktu itu ia dititipkan ayahnya kepada seorang guru persilatan.

Teman-teman seperguruannya sangat sayang dan senang bergaul dengannya. Karena ia seorang yang jujur, sayang kepada yang lebih muda dan hormat kepada yang tua, ia suka dan pandai mendamaikan teman-teman yang saling berselisih di antara teman-temannya, dialah yang selalu mendamaikan dan memisahkan.

Pada suatu waktu ketika saatnya sang guru mengadakan latihan bela diri, sang guru hendak mengetahui sampai di mana kemampuan murid-muridnya. Dikumpulkannya murid-muridnya di suatu lapangan terbuka dan berkatalah sang guru, “Pada hari ini kita mengadakan latihan bela diri menghadapi serangan musuh yang jumlahnya lebih dari satu orang. Kita memerlukan keahlian untuk melompat dalam usaha menghindari serangan itu. Oleh karena itu saya ingin mengetahui sampai di mana kemampuan kalian”.

Baca Juga :  Kisah Raden Burniat Part 2

Latihan itu pun dimulai, satu persatu maju untuk memperlihatkan kemampuannya, dalam menghadapi serangan dari empat penjuru. Sang guru tersenyum bangga melihat murid-muridnya sebagian besar dapat memperlihatkan ketangkasannya. Tibalah saatnya Raden Burniat mendapat giliran, “Hai Burniat, sekarang giliranmu bersiap-siaplah!” Kata gurunya. Mendengar seruan dan perintah gurunya itu ia pun bangkit.

Dengan langkah yang mantap dan tenang ia maju memasuki arena latihan. Serangan tiba-tiba dan serentak dari empat penjuru datang mengarah kepadanya. Namun dengan kecepatan dan ketangkasan yang luar biasa ia melompat untuk menghindari serangan itu. Lompatannya mencapai ketinggian lebih dari 100 meter di atas tanah. Kejadian ini disaksikan gurunya dengan murid-murid yang lain, dengan rasa kagum dan keheranheranan.

Bahkan teman-teman seperguruannya merasa cemas kalau-kalau ia tidak bisa turun kembali. Sebab ia tidak tampak lagi oleh mereka. Beberapa saat kemudian Raden Burniat turun kembali di tengah-tengah arena latihan. Ia tersenyum dan tidak memperlihatkan kesombongan dan keangkuhannya, walaupun mempunyai kemampuan yang melebihi kawan-kawan seperguruannya, bahkan mungkin gurunya. Setelah menyaksikan kejadian itu Sang guru mengakui keajaiban muridnya yang satu itu. Ia merasa tidak sanggup untuk terus membimbingnya.   Bersambung KISAH RADEN BURNIAT Part 2 –>