Gubernur Rohidin Hadiri Pentas Seni Suku Karo di Bengkulu

Bengkulu – Salah satu tujuan Gubernur Bengkulu Rohidin Mersyah memimpin Bumi Rafflesia, menjadikan Bengkulu sebagai rumah besar yang aman dan nyaman bagi semua agama dan etnis di Indonesia.

Semangat kebersamaan dalam keberagaman menjadi salah satu faktor majunya sebuah daerah, baik dalam sisi pembangunan maupun harmonisasi dalam silaturahmi.

Hal tersebut disampaikan Gubernur Bengkulu ke-10 ini usai membuka Pentas Seni Multicultural Masyarakat Etnis Karo Perkolong Kolong, dalam rangka memeriahkan HUT ke-54 Provinsi Bengkulu.

“Prinsip kita menyambut baik pentas seni dari Suku Karo yang ada di Bengkulu. Ini akan semakin memperkaya khasanah budaya daerah kita,” ujar Rohidin saat acara di Gedung Balai Buntar Bengkulu, Rabu (7/12/22) malam.

Ia juga mengatakan, acara pentas seni tersebut semakin menumbuhkan semangat kebersamaan masyarakat Bengkulu.

“Prinsip Bengkulu ini menjadi rumah besar dari semua suku dan agama yang ada di Indonesia,” terang Rohidin.

Dalam kesempatan tersebut, terhadap Gubernur Bengkulu Rohidin Mersyah beserta istri dilaksanakan pemberian Marga Karo/ Marga Sembiring oleh sesepuh masyarakat Karo.

Penobatan ini ditandai pemasangan tutup kepala dan selendang khas Etnis Karo, sehingga nama Gubernur Bengkulu Rohidin Mersyah menjadi Rohidin Mersyah Sembiring.

Rohidin mengaku menyambut baik dan terima kasih atas pemberian nama marga tersebut.

“Ini sebuah bentuk pengakuan, maka kita jaga nilai-nilai kekeluargaan ini. Secara pribadi ini sebuah penghormatan dan saya harus menjaga ini dengan baik,” ungkapnya.

Anggota DPRD Provinsi Bengkulu Usin Abdisyah Putra Sembiring mengatakan, dilaksanakan Pentas Seni Multicultural Masyarakat Etnis Karo sebagai bentuk penyampaian aspirasi yang sebelumnya disampaikan beberapa tahun lalu.

Karena, lanjutnya, masyarakat Karo belum pernah lagi melaksanakan acara perkolong kolong (seni daerah masyarakat Karo) di Bengkulu.

“Jadi dari aspirasi ini kami memfasilitasi kegiatan tersebut melalui Dinas Dikbud Provinsi Bengkulu. Sehingga mereka tetap bisa mempertahankan nilai-nilai kebudayaan masyarakat Karo meskipun di perantauan dan serangan budaya luar,” pungkasnya. (red)

Baca Juga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *