Satujuang, Seluma – Ambruknya Jembatan Matan di Kabupaten Seluma pada 6 April 2026 masih menjadi polemik di tengah masyarakat.
Selain mengarah pada dugaan korupsi, publik kini juga menyoroti kualitas struktur timbunan oprit jembatan yang diduga tidak sesuai spesifikasi.
Tokoh masyarakat Desa Rawa Indah, Agusti Wulantara, mengungkapkan adanya kejanggalan pada material timbunan yang digunakan dalam pembangunan jembatan tersebut.
Ia menyebut temuan itu berdasarkan video yang beredar di masyarakat.
“Kita mendapati dari video yang beredar bahwa timbunan dibawah oprit jembatan bukan dari yang seharuanya. Terlihat jelas bahwa itu bukan situ atau tanah merah yang dipadati, melainkan tanah bercampur pasir dan akar kelapa sawit,” sampainya kepada awak media satujuang, Rabu (29/4/26).
Agusti juga mengkhawatirkan potensi ambruk pada bagian oprit lainnya, khususnya yang mengarah ke Desa Rawa Indah, apabila kembali terjadi genangan air.
“Kemarin itu kan yang arah Pasar Seluma, tidak menutup kemungkinan yang arah Rawa Indah akan ambruk juga jika tergenang air. Harusnya ini menjadi catatan penting bagi APH untuk mengungkap permasalahan ini hingga ke akarnya,” sampai Agusti.
Sementara itu, terkait dugaan bahwa ambruknya jembatan disebabkan oleh banjir pada 5 April 2026, Kepala Pelaksana BPBD Seluma, Arben Mukhtiar, menegaskan tidak ada penetapan status bencana di daerah tersebut.
“Tidak ada penetapan status bencana oleh Bupati Seluma, sementara pada saat itu kita memberikan bantuan kepada masyarakat berdasarkan kemampuan dari Baznas dan Dinas Sosial,” ujar Arben Muktiar saat dikonfirmasi melalui sambungan WhatsApp.
Di sisi lain, Sekretaris Daerah Provinsi Bengkulu, Herwan Antoni, selaku ex officio Kepala BPBD Provinsi Bengkulu, menyatakan bahwa proyek pembangunan jembatan telah dilaksanakan sesuai kontrak dan saat ini tengah diaudit oleh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK).
“Waalaikumsalam, Pekerjaan sudah dilaksanakan sesuai kontrak, saat ini lg diaudit BPK, masih masa pemeliharaan. Saat ini pihak kontraktor sedang memperbaiki ada oprit yang turun dengan menggunakan giotek,” sampai Herwan Antoni.
Namun, saat dimintai tanggapan lebih lanjut terkait dugaan oprit tanpa tulangan besi, kesesuaian dengan gambar perencanaan, sistem pengadaan, serta status pejabat pelaksana teknis kegiatan (PPTK), Herwan tidak memberikan respons lanjutan.
Sebagai informasi, Jembatan Matan yang menghubungkan Desa Pasar Seluma dan Desa Rawa Indah ambruk pada 6 April 2026, atau sekitar dua bulan setelah diresmikan oleh Gubernur Bengkulu, Helmi Hasan pada 6 Februari 2026.
Saat ini, jembatan tersebut telah diperbaiki oleh kontraktor PT Rodatekhnindo Purajaya. Berdasarkan pantauan di lapangan, perbaikan dilakukan dengan menggunakan metode geotekstil pada bagian oprit.
Informasi terhimpun, proses lelang proyek pekerjaan Jembatan Matan ini dilaksanakan melalui sistem e-purchasing atau melalui e-Katalog bukan melalui lelang seperti biasanya.
Sumber dana proyek ini merupakan bantuan hibah dari BNPB yang disalurkan melalui BPBD Provinsi Bengkulu, yang dimana saat itu dipimpin oleh Herwan Antoni. (da)











