Kisah Sang Ketua, Jaga Kursi Salah Senjata: KTA Partai Jadi Taruhan

Di Gedung Parlemen Bengkulu yang selalu riuh di kawasan Bumi Rafflesia, saat ini sedang dipentaskan sebuah dariama absurd.

Tokoh utamanya, Sang Juru Kunci Kursi Emas, seorang Senator Kawakan yang mendapat mandat tertinggi dari partainya, kini mendapati singgasananya bergoyang.

Panggung politik disibukkan oleh perdebatan yang salah fokus: antara Rotasi Jabatan yang tak lebih dari geser-menggeser perabotan kantor dengan PAW hantu pemecatan total yang ditakuti semua Anggota Dewan.

Senjata Usang Melawan Kehendak Langit

Juru Kunci Kursi Emas itu kini bertarung mati-matian. Amunisinya? Sebuah Undang-Undang tentang syarat PAW Anggota (harus meninggal, inkrah hukum, dsb.) yang ia tafsirkan.

Ia berteriak, “Ini tak sah! Sebab saya belum dipenjara, belum mengundurkan diri, apalagi meninggal dunia!”

Tentu saja, teriakan itu disambut tawa miris dari Langit Politik.  Sebab, yang diinginkan Langit hanyalah mengganti topi Sang Juru Kunci, bukan mencopot kepalanya.

Menggunakan syarat PAW Anggota untuk menolak Rotasi Jabatan sama lucunya dengan menolak menikah karena syaratnya harus bisa membuat roket.

Argumen itu sama sekali salah sasaran.

Dari dariama Rotasi Menuju Tragedi PAW

Di balik panggung, Langit Politik semestinya sedang menimbang-nimbang. Jika Sang Juru Kunci terus menahan surat mandat di meja, menghambat proses, dan menggunakan kekuasaan untuk melawan kehendak Ibu Kandung Politiknya (Partai), maka permainan harus berubah.

Perlawanan ini dapat dikategorikan sebagai pembangkangan etis dan disiplin tingkat tinggi.

Dan di dunia politik, pembangkangan memiliki sanksi yang jelas: pencabutan Kartu Tanda Anggota (KTA) Partai.

Jika KTA dicabut, seketika perdebatan Rotasi versus PAW menjadi usang.

Langit akan memiliki senjata pamungkas: surat sakti yang mengacu pada Pasal 239 UU MD3 yang berbunyi, Anggota Dewan diberhentikan karena diberhentikan sebagai anggota partai politik.

Maka, perlawanan heroik Sang Juru Kunci untuk mempertahankan Kursi Emasnya justru berpotensi memicu tragedi yang lebih gelap: kehilangan bukan hanya jabatan, tetapi juga seluruh status keanggotaan dewan.

Sungguh sebuah taruhan politik yang ironis: berjuang demi sebuah jabatan struktural, namun mempertaruhkan kartu identitas politik.

Kita tunggu saja, apakah Sang Juru Kunci akan tetap berpegangan pada Kitabnya, atau ia akan tunduk sebelum Hantu PAW yang sesungguhnya datang menjemput.

Tim Redaksi

Baca Juga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *