Satujuang- Setelah sempat heboh diberitakan sebelumnya, dengan judul berita “Wow, 1 M3 Rabat Beton Desa Pajar Bulan Ini Telan Anggaran 2,6 Juta“.
Kepala desa Pajar Bulan Kecamatan Kaur Tengah Kabupaten Kaur, Kamri Yanto, diketahui memberikan klarifikasi kepada beberapa media online.
Dalam narasinya, Kamri Yanto mengakui bahwa jumlah keseluruhan dana pembangunan tersebut adalah sebesar Rp 206.917.000.
Ia berdalih bahwa sebagian dana tersebut juga digunakan untuk pembukaan badan jalan. Namun sayangnya, ia tidak menyertai dengan informasi berapa besaran anggaran yang digunakan untuk membuka badan jalan.
Terkait pengangkutan material dan upah para pekerja, Kades berdalih telah dilaksanakan sesuai dengan keputusan Musyawarah Desa (Musdes) dan prosedur yang ada.
“Kalau untuk pengangkutan dan para pekerjanya pihak Pemdes Pajar Bulan sudah melaksanakan melalui keputusan dalam musdes dan itu semua mengikuti prosedur yang ada dan di tuangkan dalam kesepakatan berita acara di Musdes,” sebut Kamri Yanto, dikutip dari media aksara24.
Soal kualitas jalan rabat beton yang dikatakan rusak, Kamri Yanto berdalih, belum sebulan dari selesainya pekerjaan, jalan tersebut sudah dilewati oleh ratusan kendaraan pengunjung wisata dan warga yang mengangkut hasil panen padi.
Pada pemberitaan sebelumnya yang tayang dimedia ini, muncul kejanggalan atas besarnya anggaran yang digunakan untuk pembangunan jalan yang hanya sepanjang 105 meter tersebut.
Pembangunan itu diketahui menggunakan semen merah putih dan menggunakan batu koral, disamping itu pembangunan juga tidak menggunakan plastik sebagai alas rabat beton.
Tinggi badan jalan juga sempat dipertanyakan, karena tidak sama rata 0,15 m.
Pembangunan ini dianggap terlalu mahal jika dibandingkan dengan pembangunan rabat beton yang dibangun di Desa Gentungan Kabupaten Trenggalek Jawa Timur.
Desa tersebut membangun rabat beton sepanjang 300 meter, lebar 3,5 meter dan tinggi 0,1 meter hanya mengahabiskan Dana Desa sebesar Rp 175.471.900.
Jika dihitung, untuk membuat 1 M3, pihak desa Gentungan hanya memerlukan biaya sebesar Rp 1,4 juta (setelah dipotong pajak) saja. Menggunakan jenis batu split yang tentunya lebih tinggi secara harga dan kualitasnya ketimbang batu koral, berbanding jauh dengan desa Pajar Bulan yang menghabiskan anggaran sebesar Rp 2,6 juta (Setelah dipotong pajak) untuk 1 M3 dengan spesifikasi yang mereka miliki.
Disisi lain, muncul komentar dari netizen pada link berita sebelumnya menggunakan akun Facebook Edy Supanto, yang menyebutkan bahwa jika beton Fs 45 include dengan besi begesteng Ppn, Pph bisa jadi anggarannya sebesar itu.
Namun, komentar berikutnya berbeda “Kayaknya kalo anggaran desa gak mungkin deh pake fs 45, itu mungkin rabat biasa, dan kayaknya jarang fs 45 tebal cuma 15 cm, kemungkinan kalo fs 45 untuk 100 meter pekerjaan gak pake fs 45, jarang dana desa pake tee bar sama dowel, tapi ya mungkin desain nya bukan rabat beton, tapi udah rigid pavement,” tulis akun Facebook Rahman Waluyo.
Hingga berita ini tayang, informasi soal pembagian alokasi anggaran Dana Desa antara pekerjaan Pembukaan Badan Jalan dengan Pembangunan Rabat Beton desa Pajar Bulan termasuk Rencana Anggaran Belanja (RAB) belum diketahui secara rinci.
Termasuk apakah rabat beton tersebut masuk kategori beton FS 45 yang menggunakan besi sehingga besarnya anggaran dianggap wajar.
(Red)






