Tolak Bayar Tebusan, Hacker LockBit Sebar Data Karyawan dan Nasabah BSI ke Internet

Perkiraan Waktu Baca: 2 menit

Jakarta– Kelompok Hacker LockBit disebut meminta PT Bank Syariah Indonesia Tbk. (BRIS) membayar uang tebusan sebesar Rp.295,61 miliar.

“Kelompok ransomware LockBit juga telah mempublikasikan log obrolan terkait negoisasi dengan BSI. Mereka menuntut uang tebusan sebesar US$20 juta (Rp256.619.469.026),” demikian keterangan tertulis dalam akun Twitter @darktracer_int, Selasa (16/5/23).

Menolak

Dalam tangkapan layar yang menyertai unggahan tersebut, terlihat pihak yang diduga BSI keberatan melakukan pembayaran uang tebusan karena dinilai terlalu mahal.

“Kenapa besar sekali (nominalnya) Paling tidak berikan kami terlebih dahulu satu sample username dan password yang kalian curi, kita taruh harga di US$10 juta,” demikian keterangan tertulis dalam percakapan negoisasi yang diduga terjadi antara BSI dan LockBit.

Negosiasi Gagal

Diketahui, kelompok LockBit meminta pihak BSI mengirimkan sejumlah uang dan memberikan tenggat waktu, hingga 16 Mei 2023 pada pukul 4.09 WIB.

Akan tetapi, pihak BSI mengabaikan tuntutan kelompok ransomware LockBit.

Imbasnya, kelompok LockBit diduga telah menyebarkan 1,5 TB data karyawan dan nasabah Bank Syariah Indonesia (BSI) ke internet.

“Masa negosiasi telah berakhir dan kelompok LockBit akhirnya mempublikasikan semua data yang dicuri dari Bank Syariah Indonesia di dark web,” demikian keterangan yang disampaikan akun @darktracer_int, Selasa (16/5/23).

Mengajak Berhenti Jadi Nasabah BSI

Dalam blognya, kelompok LockBit mengimbau nasabah untuk berhenti menggunakan BSI.

Sebab, BSI tidak mampu melindungi dana dan informasi pribadi nasabahnya dari serangan siber. Terlebih, BSI tidak mampu memulihkan layanannya dengan cepat.

Pemerasan

Sebelumnya, pakar keamanan siber dari Vaksincom, Alfons Tanujaya menduga kuat layanan BSI terganggu karena serangan ransomware (Hacker) yang berusaha semaksimal mungkin mengenkripsi data, sekaligus sistem penting yang bertujuan menganggu jalannya operasional perusahaan.

Sebab, BSI tidak mampu melindungi dana dan informasi pribadi nasabahnya dari serangan siber. Terlebih, BSI tidak mampu memulihkan layanannya dengan cepat.

Dengan demikian, mau tidak mau korban serangan siber ini, didesak untuk membayar uang tebusan yang diminta demi kelangsungan operasional perusahaan.

Menurut Alfons, enkripsi, uang kripto, dan the onion router (TOR) memberikan kondisi sempurna untuk aksi kejahatan pemerasan dengan memanfaatkan teknologi. (red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *