Jakarta- Matahari terbit di timur dan terbenam di barat, menandai dimulainya hari baru di suatu wilayah.
Namun, pernahkah terpikirkan wilayah mana di Bumi yang pertama kali merasakan sinar Matahari terbit? Fenomena ini berkaitan erat dengan rotasi Bumi serta penentuan zona waktu global.
Menurut Cameron Hummels, seorang sarjana pascadoktoral dalam astrofisika di Institut Teknologi California (Caltech), secara fisika tidak ada istilah “Matahari terbit pertama”.
Hal ini disebabkan oleh rotasi Bumi yang menciptakan gerakan Matahari yang tampak terus-menerus dari timur ke barat.
Namun, untuk kepentingan penghitungan waktu, manusia menetapkan garis penanggalan internasional sebagai titik acuan di mana hari baru dimulai.
Pulau Pertama yang Menyambut Matahari
Pulau Milenium, bagian dari Kiribati, adalah wilayah pertama yang menyaksikan Matahari terbit berdasarkan garis penanggalan internasional.
Pulau ini berada di bagian paling timur Kiribati, sebuah negara republik di tengah Samudaria Pasifik yang terdiri dari 33 pulau, meskipun hanya sekitar 20 pulau yang dihuni.
Selain Pulau Milenium, Young Island juga sesekali menyaksikan Matahari terbit pertama, terutama pada waktu-waktu tertentu seperti sekitar titik balik Matahari atau 1 Januari.
Di wilayah utara, Pulau Diomede Besar yang dimiliki Rusia juga dapat mengalami momen serupa menjelang 21 Juni.
Penyebab Matahari Terbit dan Terbenam
Fenomena terbit dan terbenamnya Matahari terjadi karena rotasi Bumi, yaitu perputaran Bumi pada porosnya dari barat ke timur.
Rotasi ini menyebabkan pergantian waktu siang dan malam, perbedaan waktu antarwilayah, gerak semu harian Matahari, serta memengaruhi arah arus laut.
Pulau-pulau tersebut menjadi saksi awal hari baru, menjadikan mereka simbol penting dalam sistem waktu global.
Dengan memahami proses ini, kita bisa lebih menghargai pergerakan alami yang memengaruhi kehidupan di Bumi.(Red/detik)











