Satujuang, Bengkulu – Investasi tambang emas di Kabupaten Seluma, Provinsi Bengkulu, mendapat dukungan kuat dari tokoh daerah, Edi Agusdin.
Politisi yang juga mantan anggota DPRD Kota Bengkulu ini mengatakan bahwa proyek tambang tersebut bukan dikuasai asing, melainkan perusahaan nasional yang dipercaya pemerintah pusat.
“Ini bukan perusahaan asing. Ini anak bangsa sendiri yang diberi kepercayaan untuk mengelola kekayaan alam negeri. Ini hal penting yang harus dipahami masyarakat agar tidak terjebak pada stigma yang salah,” tegas Edi, yang juga pernah menjadi calon anggota DPD RI, Rabu (9/7/25).
Menurutnya, potensi emas di Seluma bukan isapan jempol. Cadangannya termasuk yang terbesar, dan jika dikelola secara bijak akan menjadi pilar pembangunan daerah.
Cadangan emas di Seluma termasuk salah satu yang terbesar. Ini adalah anugerah yang patut disyukuri. Bahwa Provinsi Bengkulu khususnya Kabupaten Seluma duduk di atas kekayaan alam yang sangat potensial.
“Ini bukan sekadar bisnis, tapi kesempatan emas untuk membangun Bengkulu dari bawah, dengan kekayaan yang kita miliki sendiri,” ujarnya.
Tambang emas ini adalah modal besar untuk membangun daerah. Pendapatan daerah akan meningkat, pembangunan infrastruktur akan terbantu, dan kesejahteraan masyarakat akan terangkat.
Lapangan pekerjaan terbuka, perputaran ekonomi lokal menggeliat, dan sektor UMKM bisa berkembang pesat.
Edi juga mengingatkan bahwa sejarah mencatat Bengkulu pernah menjadi penghasil emas terbesar di Asia Tenggara pada era kolonial. Sayangnya, saat itu rakyat hanya jadi penonton dan pekerja kasar.
“Emas kita dulu diangkut penjajah, dan kita hanya jadi buruh. Sekarang kita harus jadi tuan rumah,” katanya.
Lebih jauh, ia meyakini bahwa investasi ini telah melalui kajian dan regulasi ketat. Semua perizinan dan analisis dampak lingkungan tentunya sudah dijalankan sesuai aturan.
Sebab perusahaan nasional yang akan beroperasi juga diwajibkan menjalankan tanggung jawab sosial melalui program CSR, termasuk di bidang pendidikan, kesehatan, dan budaya.
“Kalau kita bersikap negatif terus, kita akan kehilangan peluang besar. Padahal dari tambang ini bisa lahir lapangan kerja, geliat UMKM, dan peningkatan PAD untuk membangun infrastruktur. Ini murni peluang yang harus disambut dengan pikiran terbuka,” pungkas Edi. (Red)






